Tampilkan postingan dengan label Nyai Silmun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nyai Silmun. Tampilkan semua postingan
KH. Choliel Idries tercatat memiliki 23 putra-putri dari jalur 3 istri, yakni Ny. Khodijah, Ny. Badriyah dan Ny. Siti Fathimah. Dari nomer 1 sampai 10 merupakan putra-putri dari Nyai Khodijah. Urutan ke 11 hingga 16 merupakan buah hati dari Nyai Badriyah. Sementara urutan 17 hingga 23 merupakan anak dari pernikahan dengan Nyai Siti Fathimah. Berikut adalah putra-putri KH. Choliel Idries:
1. Ruqoyyah
Meninggal dunia saat lahir dan dalam proses perjalanan menuju Arab Saudi.
2. KH. Thoyyib (Babalan, Wedung, Demak)
Satu-satunya putra KH. Choliel Idries yang lahir di tanah suci Mekah. Ketika usia dewasa, KH. Thoyyib menikah dengan wanita asal Semat, Kedung, Jepara bernama Nyai Husnah. Usai menikah dengan Nyai Husnah, Beliau tinggal di desa Semat. Selain menikah dengan Nyai Husnah, KH. Thoyyib juga menikah dengan Nyai Maryam, wanita asal Babalan, Wedung, Demak, dalam rangka persebaran dakwah Islam. Sehingga hidupnya KH. Thoyyib berpindah-pindah antara Jetak (tanah airnya), Babalan dan Semat, dalam rangka dakwah. Dari dua istri, KH. Thoyyib memiliki 4 anak. Hingga akhir hayatnya, usai Nyai Husnah meninggal dunia, KH. Thoyyib tinggal di desa Babalan dan dimakamkan disana pula.
3. KH. Hilaluddin (Purwogondo, Kalinyamatan, Jepara)
KH. Hilaluddin ketika usia dewasa menikah dengan gadis asal Purwogondo, Kalinyamatan Jepara bernama Nyai Ma'rufah. Nyai Ma'rufah sendiri putri dari Kiai Jamil dan Nyai Nahari. Kakaknya Nyai Ma'rufah, Nyai Badriyah kemudian hari menjadi istri KH. Choliel Idries. Sampai akhir hayat KH. Hilaluddin, beliau berjuang sebagai pendakwah di Purwogondo dan dimakamkan di pemakaman umum desa Purwogondo. KH. Hilaluddin memiliki 10 anak yang juga meneruskan perjuangannya dengan beragam media.
4. Masyhadi
Putra keempat KH. Choliel Idries ini meninggal dunia saat perang melawan penjajahan. Selain sebagai seorang pejuang, Beliau meninggal dunia saat masih berstatus sebagai santri di Kajen, Margoyoso, Pati. Beliau dimakamkan di komplek pemakaman Mbah Muttamakhin Kajen. Beliau gugur sebagai pejuang dan santri, tentunya Beliau tergolong sebagai syahid.
5. KH. Basyir Muhsin (Jetak, Wedung, Demak)
Tokoh Jetak, Wedung, Demak ini memiliki nama kecil Ahmad Salim. Nama Basyir Muhsin sendiri didapat usai melaksanakan ibadah haji. KH. Basyir merupakan penerus kemursyidan KH. Choliel Idries di Tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah Al Cholieliyah, Jetak, Wedung, Demak. Selain sebagai mursyid Tarekat, Beliau juga mengajar di Madrasah Darussalam dan PP. Al Cholieliyyah.
Beliau menikah sebanyak 2 kali. Pernikahan pertama dengan Nyai Inamah melahirkan 1 putri. Usai sang istri Nyai Inamah meninggal dunia, Beliau menikah dengan Nyai Sri Maiyah, gadis asal Ngelokulon, Mijen, Demak. Dari pernikahannya dengan Nyai Sri Maiyah, Beliau dikaruniai sebanyak 7 putra-putri. Total keturunannya sebanyak 8 putra-putri.
KH. Basyir Muhsin terkenal sebagai tokoh yang dekat dengan masyarakat. Meski dalam perjalanan mendidiknya, Beliau terkenal galak. Hingga akhir hayatnya, Beliau meneruskan perjuangan ayahnya di desa Jetak, Wedung, Demak. Bahkan saat tutup usia, Beliau dimakamkan bersandingan dengan ayahnya, KH. Choliel Idries.
6. KH. Ali Rodli (Jetak, Wedung, Demak)
KH. Ali Rodli selain seorang Kiai, Beliau merupakan kepala desa Jetak, Wedung, Demak. Istrinya bernama Nyai Zubaedah. Dan dikaruniai 8 putra-putri yang tersebar di banyak daerah. Dari Jetak, Jali (Demak), Kriyan (Jepara), Depok hingga Jakarta. Hingga akhir hayatnya, Beliau berjuang di desa Jetak, Wedung, Demak dan dimakamkan bersandingan dengan ayah dan kakaknya.
7. Nyai Silmun (Menco, Berahanwetan, Wedung, Demak)
Nyai Silmun merupakan satu-satunya putri KH. Choliel Idries yang pernah menikah sebanyak empat kali. Meski empat kali menikah, Beliau tidak melakukan poliandri, lantaran hal tersebut memang terlarang dalam Islam. Nama-nama suaminya ialah: Kiai Nurhadi, Kiai Suparmono, Kiai Abu Muslim dan Kiai Slamet. Nyai Silmun memiliki keturunan sebanyak 6 putra-putri. Ketika sudah menikah, Beliau tinggal di Menco, Berahanwetan, Wedung, Demak hingga akhir hayatnya. Beliau dimakamkan di pemakaman umum dusun Menco.