Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

KEINDAHAN POS 3 KE POS 5 YANG TAK TERKIRA

(SERI 7 MENUJU PUNCAK UNGARAN)

—

Usai beristirahat di Pos 3, kami lanjutkan pendakian. Kami terus melangkah dan kalau lelah ya istirahat. Saking banyaknya istirahat, saya pun lupa berapa kali istirahat yang kami alami. Langkah demi langkah kami jalani, hingga sampai di Pos 4, saya kaget. “Lo kok ada Pos 4? Seingatku dulu, setelah Pos 3, langsung melewati kolam dan kebun teh.” batin saya, yang akhirnya terjawab ketika kami pulang dari pendakian.

Di pos 4, kami terus melangkah mengikuti penanda menuju Puncak. Penandanya mengarahkan kami untuk belok ke kiri, meski dalam ingatan saya, sepertinya lurus. Beberapa langkah dari pos 4, kami melihat bayi matahari dari celah-celah dedaunan pohon. Cahaya yang menyemburat dari celah-celah itu, kami nikmati sejenak. Kami pandangi indahnya langit yang berganti warna, dari hitam pekat ke biru yang bercampur merah orange kekuningan—warna apa lagi ini? Intinya kami melihat indahnya sunrise yang baru muncul diantara pepohonan Gunung Ungaran.

Usai menikmati sejenak, kami lanjutkan pendakian. Meski sedikit kecewa, lantaran tidak bisa menikmati sunrise di puncak gunung, kami akan mencari nikmat-nikmat lain yang bisa dinikmati dan disyukuri. Takdirnya sudahlah begitu, diantara pos 4 dan pos 5, matahari sudah terbit. Langkah demi langkah kami gerakkan, medan pendakian semakin berat, sementara stok minuman tinggal beberapa teguk saja. Ini menjadi fase terberat bagi Ulfa dan Yusril. Namun saya harus menyemangati mereka, bahwa puncak semakin dekat. Berkali-kali kami istirahat untuk menuju Pos 5—yang awalnya tidak ada dalam pikiran saya, usai pos 4 itu pos 5. Dalam pikirku, usai pos 4 ya puncak.

Kami menjumpai tebing-tebing dan tanjakan. Tampak Yusril dan Ulfa mulai patah semangat. Meski begitu saya selalu berbicara, “kita hampir sampai”, agar semangat mereka untuk sampai puncak tak pupus. Kami lewati tanjakan curam, yang kebetulan ada tali rotan untuk kami pegangi. Usai melewatinya, tampak pos 5 yang saya kira puncak. “Iku lo puncak wis ketok.” ujar saya yang baru pertama lewat jalur pos 4 hingga ke puncak ini.

Ketika hampir sampai di pos 5, kami menemui tebing-tebing dan pohon yang bunganya amat banyak. Bunga itu jarang kami temui di dataran rendah. Indah banget pokoknya. Kami bertiga merangkak jalan menuju ujung tebing yang pemandangannya sungguh cakep untuk dibuat swafoto. Selain sebagai istirahat, ibadah generasi milenial, swafoto kami lakoni.

Cekrek, cekrek, cekrek. Kami bergantian foto memfoto. Perkampungan Promasan tampak, Puncak Gendol juga tampak. Selain itu, Kebun Teh Medini yang terhampar diantara Promasan, Gendol dan Ungaran tampak cakep. Bunga-bunga berwarna pink menghiasi sekitaran tebing. Bunga apa namanya saya tidak tahu, yang saya tahu bunga itu bukan bunga pinjaman maupun simpanan bank.

Saya menjerit, aaaaaaa. Ulfa pun ikut menjerit, aaaaaa. Rasa sesak di dada dan lelah di kaki terasa lega. Di peristirahatan ini, kami bertiga tidak minum seteguk air pun, kecuali air ludah yang kami telan lagi untuk membasahi tenggorokan kering kami. Sementara itu, saya masih punya kopi yang membasahi bibir disela hisapan rokok pro merah. Kami atur napas sejenak untuk melanjutkan ke Pos 5 (yang sekali lagi, kami kira puncak).

Bagaimana kelanjutan ceritanya, ikuti terus HBArafat.com. Jangan lupa untuk membuka youtube kami: HB. Arafat dan Hayya Channel. View, Like, Subscribe dan Share ke teman-temanmu ya lur. Agar dapur kami tetap ngebul setebal kabut Gunung Ungaran. See you in 8th series.

—

Semarang, 2 Dzulhijjah 1443

SEPATU PANTOFEL & SEPATU YANG BASAH

taken by: Sajidah Ulfa

(SERI 6 MENUJU PUNCAK UNGARAN)

—

Di Pos 1, saya kembali dibuat marah. Kali ini yang membuat marah itu Ulfa. “Menengo cocotmu! ” Seru saya, saat Ulfa ngomong: kayaknya menarik kalau uji nyali disini. Barangkali kalau saya tidak marah, pembahasan akan berlanjut ngegosipin mbak kunti, mas cong, mbah gendru, dek yul dan saudara-saudaranya. Masih aman jika hanya sebatas pembahasan dan pergosipan semata. Lah kalau yang diperbincangkan dan dipergosipkan datang, bagaimana nasib Ulfa dan Yusril, eh saya juga nding. Gimana jadinya, gimana? Setelah itu, obrolan kembali membahas hal lain yang sekiranya tidak mengancam dan membahayakan kami.

Waktu terus berjalan, kami pun mesti berjalan menuju Pos 2. Kami gerakan kaki untuk melangkah. Langkah demi langkah kami jalani. Nuansa tetap sama seperti sebelumnya, gelap gulita dan gemericik air terdengar. Medan semakin menanjak namun masih terhibur oleh beberapa jalan landai. Percabangan demi percabangan jalur kami temui, hingga kami menemui percabangan yang membingungkan karena gelapnya hari.

Saya mencari jalur yang lurus, Yusril kuminta melihat plang sebelah kanan yang berjarak 10 meteran. Permintaan saya ternyata membuat Yusril terjeblos ke aliran air pegunungan. Maklum gelap gulita, senter yang dibawanya diarahkan ke plang penunjuk arah. Sepatu Yusril basah, tapi begitulah resiko dari sebuah pendakian. Sepatu basah, bahkan kalau sedang turun hujan, bisa-bisa seluruh tubuh basah. Sepatu basah dan kotor itu hal yang wajar. Yang tidak wajar itu Ulfa, ke pegunungan kok pakai sepatu pantofel.

Akhirnya kami belok kanan, mengikuti jalur yang dipilih Yusril. Kembali ke formasi awal, saya yang di depan. Kali ini, kami temui jalur yang menanjak tajam. Medan kali ini tanjakan tajam, sementara undak-undakannya terbuat dari tanah dan akar yang menyampur. Kami bahu membahu, saling ulurkan tangan agar semuanya selamat sampai tujuan.

Sepanjang menuju Pos 2, kami tercatat sudah tiga kali istirahat. Napas mulai tampak ngos-ngosan semuanya. Meski begitu, kepulan asap rokok tetap menemani tiap hembusan napas saya. Pos 2, kami lewati begitu saja. Perjalanan menuju Pos 3 dengan medan yang semakin berat buat langkah-langkah, khususnya buat para pemula. Pada perjalanan menuju Pos 3, suara adzan terdengar, kami nikmati sebagai pelindung, sebagai wangsit keselamatan. Entah suara adzan itu berasal dari kampung mana. Intinya kami berjalan di tengah hutan Gunung Ungaran.

Terhitung 3 kali pula, kami istirahat antara Pos 2 dan Pos 3. Di Pos 3, kami istirahat, menyandarkan geger, menyelonjorkan kaki, dan mengatur ritme napas kami. Air mineral yang kami bawa menipis. Pikir saya waktu itu, nanti diisi di kolam sehabis Pos 3, sebelum kebun teh. Di Pos 3, kami juga bersepakat untuk mengqodo’ shubuh kami. Maafkan kami Gusti, di tempat itu tak ada air dan kami sedang kelelahan. Kalau meminjam cuitan Gus Mus, “Tuhan, kami sangat sibuk”. Begitulah kenyataan kami yang penuh dosa dan berharap sangat sibuk itu menjadi kesibukan meminta ampunan dariNya dan menemukanNya.

Maafkan kami pula yang tentunya banyak salah dan dosanya. Maafkan saya juga yang terpaksa memotong cerita selanjutnya. Tetap ikuti HBArafat.com dan jangan lupa Subscribe channel youtube kami: HB. Arafat dan Hayya Channel, agar kami tetap bersemangat menyajikan perjalanan dan pengalaman kami ke manteman semua. Sampai jumpa di seri ketujuh. 

—

Semarang, 1 Dzulhijjah 1443

PERJALANAN AWAL PENDAKIAN

(SERI 5 MENUJU PUNCAK UNGARAN)

—

Setelah mendapat banyak informasi dari mbah Google dan saya melangitkan doa dalam dada, akhirnya kemantapan hati untuk mendaki puncak Ungaran terpatri. Kami memulai pendakian dengan bekal sholawat dan salam kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan memohon pendakian ini diliputi penjagaan Allah dari awal hingga akhir. Saya meminta Ulfa dan Yusril untuk senantiasa bersholawat, meski sekadar dalam dada. Sholawat dan doa menggema dalam dada, kaki menapak setiap jejak-jejak menuju Pos 1.

Pemandangan yang masih gelap gulita, mengharuskan kita untuk tetap menatap bawah, melihat langkah. Sebab sebelah kanan sepertinya jurang, lantaran hanya hitam yang tampak di mata kami, selain tempat-tempat yang tersorot cahaya senter kami. Pada setiap jejak langkah kami, terdengar suara hewan-hewan nokturnal dan gemericik air yang mengalir di pralon, sumber air warga. Langkah demi langkah kami tapaki dengan hati-hati.

Di beberapa meter awal kami jumpai tanjakan yang terbilang ringan. Namun usai tanjakan itu, Ulfa dan Yusril meminta istirahat dahulu. Maklum, pendaki newbie yang tidak menyiapkan fisiknya dengan berolahraga dan joging sebelumnya. Kami istirahat sejenak, sembari obrolan tetap mengudara. Obrolan kami dari awal pendakian sedikitnya memecah keheningan dini hari yang hanya terdengar hewan nokturnal dan gemericik air dalam pralon.

Tiba-tiba Yusril membuat saya marah. Ketika dia membahas apakah ada harimau di hutan gunung Ungaran. “Bahas liyane!” tegur saya. Dalam keyakinan saya, setiap hutan di Jawa pasti ada harimaunya, hanya saja ada yang menampakkan, ada yang tidak. Ada mata yang mampu melihat, ada yang tidak mampu. Namun membahas demikian, tampaknya tidak elok untuk dibicarakan. Lantaran ada dua pemula yang barangkali tidak siap bila harimau benar-benar menampakkan dirinya. Itu pertimbangan yang membuat saya harus marah.

Kemarahan saya terjadi lantaran sebelum berangkat mendaki, saya tidak memberi wawasan mengenai hal-hal yang tidak patut untuk dibicarakan pendaki, kecuali pendaki itu sudah level pro. Saya sendiri tidak terpikir untuk melarang ini, melarang itu, lantaran kebiasaan saya yang tiap memulai apapun selalu saja berlandaskan tanpa memikirkan larangan-larangan. Karena setiap larangan terasa mahal untuk menjadi bekal suatu perjalanan, kecuali kita sudah mengalami kejadian yang mengharuskan kita melarang suatu hal.

Kembali pada pendakian kita yang sempat terjeda istirahat pertama di beberapa meter awal. Kami melanjutkan pendakian dengan jalur yang masih terbilang datar dan standar. Meski begitu, terdengar suara ngos-ngosan dari dua manusia di belakang saya. Tampaknya mereka berjalan dengan semangat tinggi, tanpa diimbangi stamina raga yang tinggi. Terhitung sudah tiga kali kami istirahat untuk sampai Pos 1 dengan sekali tempat untuk meneguk air mineral. Pemandangan dan nuansa yang sama seperti saat langkah awal kami menapak.

Bagaimana kisah pendakian kami ke Puncak Ungaran? Tetap ikuti HBArafat.com dan jangan lupa Subscribe channel youtube HB. Arafat dan Hayya Channel, agar kami tetap bersemangat menyajikan perjalanan dan pengalaman kami ke sobat-sobat.

—

Semarang, 30 Dzulqo'dah 1443

DARI HUJAN BASAH, HINGGA DINI HARI YANG MENCEKAM

(SERI 4 MENUJU PUNCAK UNGARAN)

—

Hujan mengguyur Basecamp Mawar, terpaksa saya meminjam kunci mobilnya Mas Barok. Sekitar pukul 22.00 WIB, hujan mengguyur, membasahi bumi bagian Mawar. Padahal saya dan Yusril sudah memasukkan badan ke sleeping bag. Lantaran hujan, kami berdua harus berpindah tempat. Sebenarnya ada pilihan di warung, musholla atau basecamp nya, namun kami lebih memilih ke mobil. Di mobil, sembari ngecharge smartphone, saya putar radio yang lama tidak mengusik telinga saya. Saya tidur di jok sopir yang saya mode turon, sementara Yusril tidur di belakang, lantaran jok belakang mode lipat, sehingga luas.

Sekitar Pukul 00.30 WIB, saya terbangun, saya buka jendela mobil, ternyata hujan sudah reda. Saya nyalakan rokok, bal bul bal bul, sembari nyeruput kopi di dashbord pintu kanan. Usai ngopi dan ngudut, sekitar pukul 01.00 WIB, saya bangunkan Yusril untuk pindah tempat ke sebelah tenda. Sesampainya di sebelah tenda, ternyata Ulfa belum tidur. Alhasil, kami bikin kopi, susu dan teh untuk menghangatkan tubuh di suhu Mawar yang semakin dingin. Kami ngopi— ngopi tapi ada yang ngeteh dan nyusu, bertiga.

Usai bikin kopi, berganti bikin indomie, nugget, sosis dan tempe goreng. Agar persiapan hiking ke puncak Ungaran kondisi tubuh sudah kenyang. Apalagi Ulfa belum tidur sama sekali, tidak seperti saya dan Yusril, meski tidur sejenak, setidaknya sudah membuat tubuh fit. Semua makanan sudah matang, kami pun makan, tetap dengan mode makan bergantian.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB, kami segera bergegas, bersiap-siap membawa barang yang perlu kami bawa. Smartphone, senter, air mineral, dan powerbank kami siapkan. Menariknya, di dalam tas Ulfa, beberapa kosmetiknya tidak dikeluarkan. Dia pikir, sampai puncak bisa berdandan lalu berswafoto. Bagaimana nasib kosmetiknya? Lihat saja nanti.

Sebelum berangkat, tak lupa, kami buang hajat dahulu, meminimalisir limbah yang terbuang di alam bebas. Sekitar pukul 03.30 WIB kami berjalan meninggalkan campground, berjalan memasuki jalur pendakian. Hanya kami bertiga yang tampak memulai pendakian di waktu tersebut. Langkah demi langkah kami tapaki, gelap gulita menjadi pemandangan kami. Formasi yang kami pakai PWP, Pria-Wanita-Pria, Saya di depan, Ulfa di tengah dan Yusril di belakang.

Beberapa meter kami lalui, saya merasa ragu, kalau jalur yang kami tapaki adalah jalur pendakian, meski dari awal sudah ada petunjuk bahwa jalur yang kami lalui adalah jalur pendakian. Keraguan saya lantaran jalur yang dulu pernah saya lalui, seingat saya tampak lebar, bisa dilalui oleh dua orang berdampingan. Namun pada dini hari itu, jalurnya hanya bisa dilalui satu orang saja. Ilalang yang tampak tinggi-tinggi membuat keraguan saya tambah.

Terpaksa saya mengajak balik ke petunjuk awal yang mengarahkan ke jalur puncak. Pendakian belum dianggap mulai kok sudah balik. Betapa lucunya saya ini. Sesampainya di penanda jalur, kami duduk di batang pohon yang roboh. Saya searching, apakah jalur pendakian via Basecamp Mawar aman untuk dilewati? Ternyata informasi mbah Google menyatakan aman. Tapi saya masih mempertanyakan kok cuma kami bertiga saja yang memulai pendakian waktu itu.

Perenungan saya lakukan, keputusan maju mundurnya di tangan saya. Apakah kami bertiga jadi mendaki gunung Ungaran atau tidak? Kita lanjut di seri kelima. Tetap ikuti postingan-postingan HBArafat.com dengan mengisi kolom buku tamu. Jangan lupa subscribe channel youtube HB. Arafat dan Hayya Channel, agar kami terus membara dalam berkreasi. See You. 

—


Semarang, 29 Dzulqo'dah 1443

DALAM SATU TENDA, HANGATNYA KEBAHAGIAAN TERASA

(SERI 3 MENUJU PUNCAK UNGARAN)

—

Daripada bingung lantaran persewaan tenda yang habis, saya memaksa untuk masuk area campground dulu. Masalah tenda, pikir keri. Kami berdelapan masuk. Saya ke loket tiket dahulu, ditanyai berapa orang, dari mana, kendaraannya apa dan pihak Mawar Campground meminta identitas saya. Ternyata saya salah hitung—hanya menghitung 6 orang saja, sehingga tagihan tiketnya hanya Rp. 75.000,- saja. Tagihan tersebut terinci sebagaimana berikut: Rp. 10.000,-/orang untuk tiket masuk, dikali 6 sehingga Rp. 60.000,-. Untuk parkir Mobil sebesar Rp. 10.000,- dan untuk motor Rp. 5.000,-. Tiket masuk tersebut tidak hanya memasuki Mawar Campground saja, namun kita bisa menjelajahi seluruh Gunung Ungaran, asalkan kakimu kuat saja. Bisa camp saja, bisa sampai puncak, bisa ke kebun teh yang di deket Promasan, bisa ke Gedong Songo sebenarnya dan bisa tembus ke mana-mana, asal baliknya nanti ke Mawar Campground lagi.

Setelah masuk ke area campground, tepatnya masih di parkiran, Mas Barok berpikir untuk turun pakai motor mengajak saya menyewa tenda. Sebenarnya di desa terakhir sebelum area wisata, ada persewaan tenda. Namun saya mamang akan ketersediaannya lantaran ini malam minggu, malamnya orang healing dan menghibur diri dari hiruk pikir industri dan kapitalisme. Sehingga saya memutuskan untuk, nanti yang di dalam tenda itu: Mas Barok, Teh Tika, Ulfa dan Para Bocil. Saya dan Yusril tidur di luar beralaskan matras, namun dua sleeping bagnya kami pakai berdua. Tok, tok, tok, begitulah keputusannya.

Kami melanjutkan jalan kaki, sekitar 10 meteran, mencari lahan untuk mendirikan tenda. Meski 10 meteran saja, kalau tidak terbiasa jalan nanjak, akan ngos-ngosan. Akhirnya kami mendapatkan tempat, mendirikan tenda pun dimulai. Saya, Yusril dan Ulfa bekerja mendirikan tenda. Sebenarnya Mas Barok hendak ikut bekerja, namun berhubung ada tiga bocil, maka baiknya Mas Barok dan Teh Tika menemani mereka saja. Sat set sat set, kami bekerja mendirikan tenda. Mas Barok dan Teh Tika menemani anak-anak makan. Tidak butuh waktu lama, sekitar 25 menitan, akhirnya tenda bisa berdiri menghadap view perkotaan yang tampak dari atas.

Tenda sudah berdiri, beberapa barang yang perlu dimasukkan, kami masukkan. Tampak para bocil sangat bahagia, lantaran mereka akan merasakan tidur di tenda untuk pertama kalinya. Apalagi, ngecampnya di pegunungan. Sungguh bahagia mana lagi yang hendak mereka dustakan?

Kemudian menyalakan kompor, membuat kopi tentunya. Saya nikmati betul bagaimana sejuknya Mawar dan kopi yang sudah matang. Saya sendiri bertugas sebagai juru masak. Yusril bagian riwa riwi ke kran air mengambil air. Air di Mawar selain untuk kebutuhan nggodhog banyu, juga sebagai air minum. Air di Mawar bisa langsung diminum, lantaran airnya langsung dari pegunungan, tanpa harus dikemas sebagaimana teman-teman beli di minimarket-minimarket. Tampak Mas Barok dan Ulfa mengambil selimut, bantal dan tas dari Mobil. Teh Tika menemani para bocil yang bahagia kejar-kejaran dan mengumpulkan ranting kayu. Konon hendak mereka buat untuk api unggun.

Waktu terus berputar, matahari pun mulai tenggelam, yang berpamitan hanya teletubies. Kami tetap asyik bercengkrama di atas matras yang tergelar di samping tenda. Malam sudah datang, semuanya menjamak sholatnya di akhir. Qisya mengeluarkan permainannya, selembar kertas yang terdapat permainan ludo, ular tangga, catur, monopoli dan satunya lagi apa namanya saya lupa. Qisya memilih bermain ludo. Dalam permainan ludo yang bermain hanya empat orang saja. Saya, Yusril, Amir/Ulfa, Qisya/Mas Barok. Meski pemainnya maksimal hanya empat pemain, nyatanya bisa dibuat enam orang. Lantaran Qisya dan Amir terkadang main lari-lari menggunakan senter bersama Alka, sehingga mereka diganti Mas Barok dan Ulfa.

Seru, Asik, Bahagia pokoknya. Bermain ludo dengan pencahayaan seadanya, membuat keakraban dan kegayengan makin terasa. Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, dengan pemenangnya tentunya saya dong. Meski awalnya saya tidak yakin bisa menang, lantaran kalah start. Namun, namanya juga permainan, bisa menang, bisa kalah, dan itu hanya sekadar finite game saja dalam sebuah infinite game yang acuannya tidak menang-kalah, melainkan bertahan hidup selama-lamanya.

Usai main ludo, saya membuatkan api unggun untuk kebahagiaan anak-anak. Usai api unggun jadi, saya kembali pada tugasnya, sebagai juru masak. Waktunya ind*mie time. Selain masak mie, saya juga menggoreng tempe, sosis dan nugget. Karena kompornya kecil, juga media masak dan makannya kecil, waktu makan bergantian. Agar hangatnya masakan terasa di dalam, lantaran di luar tubuh terasa sejuk. Masak dan makan berjalan begitu saja, tanpa terasa waktu sudah larut.

Apa yang kami lakukan selanjutnya, ikuti terus HB.Arafat.com. Jangan lupa subscribe youtube HB. Arafat dan Hayya Channel, agar kami selalu survive menyuguhkan hidangan dunia yang kami nikmati. sampai jumpa di seri keempatnya.

—

Semarang, 28 Dzulqo'dah 1443

HARI YANG DITUNGGU-TUNGGU TIBA

(SERI 2 MENUJU PUNCAK UNGARAN)

—

Rencana ngecamp sudah jauh-jauh waktu tergagas sebagai liburan keluarga yang murah— namun tidak murahan— dan mengasyikkan. Ada tiga pilihan, antara Mawar, Kopeng dan Waduk Sermo. Dari ketiga destinasi itu, saya lebih mengarahkan dan meyakinkan untuk memilih Mawar. Lantaran Teh Tika dan Mas Barok akan menjalani first campnya, sehingga saya anjurkan memilih Mawar.

Ada beberapa alasan, pertama, fasilitasnya lengkap. Di Basecamp Mawar kita akan disuguhi fasilitas toilet, tempat ibadah, warung, aliran listrik dan tentunya signal yang kuat. Alasan kedua, suhu yang tidak dingin banget untuk pemula yang sedang melakukan camping. Alasan ketiga ialah Mawar merupakan camp ground yang ramah untuk anak.

Alasan selanjutnya ialah Basecamp Mawar menawarkan view yang eksotis. Kalau malam hari, kita disuguhkan pemandangan lampu-lampu kota yang seperti bintang-bintang malam, hanya saja bintangnya berasa di bawah. Kalau siang hari, khususnya pagi hari, kita akan disuguhkan pemandangan sunrise yang menawan. Selain sunrise, pemandangan gunung-gunung dan bukit di sekitar Gunung Ungaran yang menjadikan view tambah cakep. Ditambah lagi kalau ada fenomena turun kabut, itu menjadi pemandangan seperti kita sedang di kawasan Dieng.

Sebenarnya masih banyak alasan lainnya, namun itu saja ya. Intinya di Mawar, saya paham medannya, sehingga ketika membawa anak-anak: Qisya, Alka dan Amir, amat sangat safety dan friendly. Dan hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, Sabtu Pahing, 25 Dzulqo’dah 1443 yang bertepatan dengan 25 Juni 2022.

Dari Jogjakarta, Mobil Calya membawa Mas Barok, Tek Tika, Ulfa dan para bocil. Sementara dari arah Semarang, Saya mengajak Yusril menunggangi Beat FI. Dari kos, saya menghampiri Yusril di rumahnya kecamatan Mijen. Selanjutnya kami pergi ke Mawar Campground melewati jalur Boja, Limbangan, Sumowono hingga Bandungan. Dalam perjalanan, kami disuguhkan pemandangan alam Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang yang eksotis, cakep banget, hingga sampai di loket masuk depan Umbul Sidomukti, pemandangan-pemandangan itu tak jemu memanjakan mata kami.

Sesampainya di loket masuk depan Umbul Sidomukti, kami ditagih tiket sebesar Rp. 5.000,-/ Orang. Karena 2 Orang, sehingga tagihan kami sebesar Rp. 10.000,-. Dengan harga segitu, Teman-teman bisa menikmati banyak area, salah satunya yakni Mawar Campground sebagai tujuan kami, Pondok Kopi, Pondok Panorama, Kolam Renang Umbul Sidomukti dan masih banyak area wisata dan healing, yang tentunya tiap tempat memiliki kebijakan tiket atau tidaknya masing-masing. Ketika memasuki loket tiket tersebut, teman-teman juga sudah bisa menikmati pemandangan alam Gunung Ungaran tanpa harus memasuki kawasan wisata lain. Dengan harga segitu, bagi saya worth it banget lah.

Setelah di penarikan tiket depan Umbul Sidomukti, Motor Beat FI kami pacu lagi menuju Mawar Campground. Sekitar habis ashar, kami sampai di Mawar Campground. Di depan gerbang masuk Mawar Campground, kami temui Mas Barok, Teh Tika, Ulfa dan para bocil. Ternyata Mas Barok mengeluh, lantaran persewaan tenda di Mawar Campground habis. Maklum lah malam minggu, banyak wisatawan yang mencari tempat healing mereka. Tentu hal tersebut membuat kami agak terusik, lantaran saya hanya membawa satu tenda saja. Meski kenyataannya kami membawa dua carier.

Bagaimana solusi mengatasinya, tetap ikuti HBArafat.com. Jangan lupa Subscribe channel youtube: HB. Arafat dan Hayya Channel, agar kami tetap survive menyuguhkan keindahan dan keanekaragaman Bumi ini. Nantikan kelanjutannya di seri 3 ya.

—

Semarang, 27 Dzulqo'dah 1443

MENGINGAT YANG TERLAMPAUI, UNTUK KEMBALI LAGI

(SERI 1 MENUJU PUNCAK UNGARAN)

—

Gunung Ungaran menjadi salah satu destinasi yang rekomended buat pendaki-pendaki newbie, khususnya yang berdomisili di Jateng-DIY. Selain lokasinya yang strategis dari semua arah, ketinggian gunung ini termasuk dalam kategori standart. Ketinggian puncak Gunung Ungaran sekitar 2.050 mdpl, sehingga termasuk gunung yang tidak tinggi banget, tidak juga berkategori rendah. Untuk mencapai puncaknya ada empat jalur pendakian, yakni Basecamp Mawar, Candi Gedong Songo, Promasan dan Parantunan. Dari keempat jalur tersebut, hanya dua jalur yang pernah saya lewati, yakni Basecamp Mawar dan Promasan.

Pertama kali saya ke Puncak Gunung Ungaran ialah pada 25 Desember 2014 melalui jalur Basecamp Mawar. Waktu itu, karena perjalanan menuju Basecamp Mawar malam hari sehingga tidak bertemu penjaga pos penarikan tiket sebelum Umbul Sidomukti. Lumayan lah irit, lantaran waktu itu, kami berenam tidak memiliki cukup bekal uang, sebab sudah dibelanjakan untuk bekal di puncak. Sebagai newbie waktu itu, saya sudah melatih fisik dengan saban hari jogging dan olah raga selama sepekan. Sehingga, ketika menjalani pemuncakan waktu itu, tidak jegleg.

Pada perjalanan pertama itu, kami melalui jalur dari Basecamp Mawar melewati pos 1, pos 2, pos 3, lalu melewati kolam, kebun teh hingga sampai puncak. Menariknya, selain momentum pengibaran bendera Merah Putih, kami melakukan ritual Maulid Nabi. Hal yang jarang dilakukan oleh para pendaki gunung. Barangkali itu juga merupakan Maulid Nabi pertama di puncak gunung, mungkin secara literally saya yang tidak punya wawasan mengenai Maulid Nabi di puncak gunung. Sehingga saya menganggap itu satu-satunya Maulid Nabi di puncak gunung.

Mengenai perjalanan kedua saya, saya lakoni berdua, masih via jalur Basecamp Mawar, namun kami tidak mendirikan tenda. Sesampainya puncak, menikmati Puncak Ungaran beberapa jam, lalu turun. Sementara pada perjalanan ketiganya, masih saya menjalaninya berdua. Hanya saja, kami melalui jalur Promasan, yang terbilang dekat. Perjalanan ketiga ini pun sama, kami tidak mendirikan tenda. Sampai atas lalu turun.

Pada perjalanan ke empat, saya lakoni sendirian, tidak membawa apa-apa kecuali air mineral yang saya isi ulang dengan air asli pegunungan. Perjalanan ini teramat mengasyikkan, dan cepat. Lantaran tidak saling menunggu satu sama lain. Hanya berdamai pada diri sendiri, kalau lelah, ya istirahat, kalau udah tegar, ya jalan lagi.

Begitulah ke empat perjalanan saya menuju Puncak Ungaran, yang kemudian mengantarkan saya mengajak saudara-saudara: Mas Barok, Teh Tika, Ulfa, Yusril, Qisya, Alka dan Amir untuk sekedar ngecamp di Basecamp Mawar pada 25-26 Juni 2022. Selain ngecamp di Basecamp Mawar, kami bertiga: Saya, Ulfa dan Yusril juga melakukan perjalanan menuju Puncak Ungaran.

Selengkapnya kita lanjut di seri kedua. Jangan lupa subscribe Channel HB. Arafat dan Hayya Channel, agar kami terus survive membagi banyak hal yang ada di Bumi ini.

—

Semarang, 26 Dzulqo'dah 1443