(SERI 7 MENUJU PUNCAK UNGARAN)
—
Usai beristirahat di Pos 3, kami lanjutkan pendakian. Kami
terus melangkah dan kalau lelah ya istirahat. Saking banyaknya istirahat, saya
pun lupa berapa kali istirahat yang kami alami. Langkah demi langkah kami
jalani, hingga sampai di Pos 4, saya kaget. “Lo kok ada Pos 4? Seingatku dulu,
setelah Pos 3, langsung melewati kolam dan kebun teh.” batin saya, yang
akhirnya terjawab ketika kami pulang dari pendakian.
Di pos 4, kami terus melangkah mengikuti penanda menuju
Puncak. Penandanya mengarahkan kami untuk belok ke kiri, meski dalam ingatan
saya, sepertinya lurus. Beberapa langkah dari pos 4, kami melihat bayi matahari
dari celah-celah dedaunan pohon. Cahaya yang menyemburat dari celah-celah itu, kami nikmati sejenak. Kami pandangi indahnya langit yang berganti warna, dari
hitam pekat ke biru yang bercampur merah orange kekuningan—warna apa lagi ini?
Intinya kami melihat indahnya sunrise yang baru muncul diantara pepohonan
Gunung Ungaran.
Usai menikmati sejenak, kami lanjutkan pendakian. Meski
sedikit kecewa, lantaran tidak bisa menikmati sunrise di puncak gunung, kami
akan mencari nikmat-nikmat lain yang bisa dinikmati dan disyukuri. Takdirnya
sudahlah begitu, diantara pos 4 dan pos 5, matahari sudah terbit. Langkah demi
langkah kami gerakkan, medan pendakian semakin berat, sementara stok minuman
tinggal beberapa teguk saja. Ini menjadi fase terberat bagi Ulfa dan Yusril.
Namun saya harus menyemangati mereka, bahwa puncak semakin dekat. Berkali-kali
kami istirahat untuk menuju Pos 5—yang awalnya tidak ada dalam pikiran saya,
usai pos 4 itu pos 5. Dalam pikirku, usai pos 4 ya puncak.
Kami menjumpai tebing-tebing dan tanjakan. Tampak Yusril dan
Ulfa mulai patah semangat. Meski begitu saya selalu berbicara, “kita hampir
sampai”, agar semangat mereka untuk sampai puncak tak pupus. Kami lewati
tanjakan curam, yang kebetulan ada tali rotan untuk kami pegangi. Usai
melewatinya, tampak pos 5 yang saya kira puncak. “Iku lo puncak wis ketok.” ujar saya yang baru pertama lewat jalur pos 4 hingga ke puncak ini.
Ketika hampir sampai di pos 5, kami menemui tebing-tebing
dan pohon yang bunganya amat banyak. Bunga itu jarang kami temui di dataran
rendah. Indah banget pokoknya. Kami bertiga merangkak jalan menuju ujung tebing yang pemandangannya sungguh cakep untuk dibuat swafoto. Selain sebagai
istirahat, ibadah generasi milenial, swafoto kami lakoni.
Cekrek, cekrek, cekrek. Kami bergantian foto memfoto. Perkampungan
Promasan tampak, Puncak Gendol juga tampak. Selain itu, Kebun Teh Medini yang
terhampar diantara Promasan, Gendol dan Ungaran tampak cakep. Bunga-bunga
berwarna pink menghiasi sekitaran tebing. Bunga apa namanya saya tidak tahu,
yang saya tahu bunga itu bukan bunga pinjaman maupun simpanan bank.
Saya menjerit, aaaaaaa. Ulfa pun ikut menjerit, aaaaaa. Rasa
sesak di dada dan lelah di kaki terasa lega. Di peristirahatan ini, kami
bertiga tidak minum seteguk air pun, kecuali air ludah yang kami telan lagi untuk
membasahi tenggorokan kering kami. Sementara itu, saya masih punya kopi yang
membasahi bibir disela hisapan rokok pro merah. Kami atur napas sejenak untuk
melanjutkan ke Pos 5 (yang sekali lagi, kami kira puncak).
Bagaimana kelanjutan ceritanya, ikuti terus HBArafat.com. Jangan lupa untuk membuka youtube kami: HB. Arafat dan Hayya Channel. View, Like, Subscribe dan Share ke teman-temanmu ya lur. Agar dapur kami tetap ngebul setebal kabut Gunung Ungaran. See you in 8th series.






