Tampilkan postingan dengan label Pasar Welahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pasar Welahan. Tampilkan semua postingan

HIDLIR, BUKAN?

Ilustrasi: Abdurrahman Jtk
—

“Waalaikumussalam” Dia hanya menjawab begitu, kemudian melepaskan tangannya, selanjutnya pergi kea arah selatan begitu saja. “Jika kau mengikutiku, maka jangan menanyaiku sesuatu apapun sampai aku sendiri menceritakannya kepadamu kenyataan sebenarnya.[1]” ujarnya sebelum pergi.

Sebenarnya saya mau menyusulnya, namun terhalang Kang Dul yang akan kutinggal di meja makannya. Selain itu, jika pun tak ada Kang Dul, mungkin juga saya tidak berani mengikutinya, lantaran saya bukan tipikal manusia yang kuat dan tahan untuk puasa, apalagi berpuasa dalam hal bertanya. Kalau Nabi Musa alaihissalam tidak tahan puasa bertanya pada Nabi Hidlir alaihissalam sampai tiga kali, barangkali saya akan batal dari puasa bertanya hingga ribuan kali.

Oleh karena itu, saya kembali ke meja makan menghampiri Kang Dul, membawa sedikit penyesalan lantaran tidak memiliki keberanian bertanya kepada pria itu, meski sekedar namanya saja. Boro-boro bertanya, saya menanyakan ihwal keringat basah—masak ada keringat kering ya, kalau kering namanya nasi rames dong— di leher belakang saya pada diri sendiri saja tidak mampu, apalagi bertanya pada pria tersebut. Merinding sudah melanda saya.

“Siapa itu Kang?” Tanya Kang Dul disaat keringat basah itu belum kering.

“Sepertinya Beliau itu Hidlir, Kang.”

“Kok sampeyan bisa tahu, Ia Hidlir?”

“Lah pas saya ajak salaman, ibu jarinya lembek banget Kang. Ora ono balunge[2].”

“Bisa saja itu bukan Hidlir. Apa setiap yang ibu jarinya tak bertulang itu pasti Hidlir?”

Sebenarnya sudah sejak awal ketika Kang Dul bertanya, saya mestinya tidak menjawab dengan jawaban yang linier. Harusnya kalau dia tanya utara, saya jawab selatan. Namun bagaimana lagi, hidup saya sudah terlanjur linier, bahkan sudah sejak dalam kandungan., sehingga jawaban-jawaban yang saya tuturkan kepadanya hanya sebatas pengetahuan yang saya ketahui.

Barangkali, selain itu, saya masih terkena efek gugup sehabis bertemu dan bersalaman dengan pria yang saya sangka Nabi Hidlir alaihissalam. Lucunya, saya kok masih percaya diri bahwa saya sudah mencapai pencapaian bisa bersalaman dengan Nabi yang didaulat sebagai guru oleh salah satu Nabi special, Nabi Musa alaihissalam, sesepuh Bangsa Israel itu.

“Setahu saya, manusia yang ibu jarinya lembek ya cuma Nabi Hidlir saja Kang.” Saya berusaha menjawab seadanya, setahu saya, semampu saya. Semoga Kang Dul tidak menelisik ke wilayah yang aneh-aneh.

“Analisis dan asumsi sampeyan ngawur Kang. Informasi sejarah hanya menjelaskan salah satu ciri-ciri Nabi Hidlir itu jempolnya tidak bertulang. Tapi tidak menutup kemungkinan ada manusia, selain Beliau, juga memiliki kesempatan dan peluang jempolnya tidak bertulang.”

“Lalu Beliau itu siapa Kang?” Saya balik bertanya kepada Kang Dul dan menceritakan peristiwa yang saya temui dari awal, dari depan Klenteng hingga tadi, di depan Warung Pak Kar.

“Tadi Ia mengenalkan namanya padamu tidak Kang?” Bukannya merespon dengan jawaban dan pandangan, malah menimpali dengan pertanyaan. Duh Kang Dul, duh Kang Dul.

“Tidak Kang.”

Kang Dul melanjutkan makan, saya menyalakan rokok, sementara jawaban dan pertanyaan diam satu sama lain. Pertanyaan itu menggigilkan panasnya suasana Pasar Welahan. Jawabannya tinggal di awing-awang imaji. Sop ayam yang perlahan-lahan masuk ke mulut Kang Dul, membuat hasrat saya untuk makan timbul. Akan tetapi saya berusaha membujuk diri untuk tidak menyenangkan perut yang masih menyisakan kenyang.

Daripada ngiler[3] melihat Kang Dul makan, saya pergi ke Pak Kar, pemilik warung ini, membayarkan apa yang telah dimakan Kang Dul, saya dan pria yang saya sangka Nabi Hidlir tadi. Sebab setahu saya, pria tadi belum membayar apa yang dimakan dan diminumnya. Ia langsung pergi begitu saja.

“Pak, pinten? Kopi, nasi sop, gorengane kaleh, es teh, kaleh ingkang dipun maem bapak ingkang klambi putih wau.[4]” Sembari saya tunjuk tempat duduk pria tadi.

“Bapak sing endi, mas?[5]”

“Ingkang saderenge kula wau lo pak, ingkang mesen sop, kadose.[6]” Saya berusaha menjawab yang saya ketahui.

“Mboten wonten yo mas. Mboten wonten ingkang mesen maem saderenge sampeyan. Ingkang lenggah ten mriku niku pun bayar. Ning kaose mboten putih. Ning pun dangu kesahe.[7]”

Mendengar jawaban Pak Kar, merinding yang saya alami semakin menjadi-jadi. Merindingnya tentu di dalam, tidak dalam mode tampak oleh orang lain, kecuali orang itu sudah mengenal saya. Saya semakin bertanya-tanya, kok bisa? Itu Hidlir, bukan?

—

Jum'at Pahing, 2 Dzulhijjah 1438/ 25 Agustus 2017

[1]

Surat Al Kahfi ayat 76::

قال فان اتبعتني عن شيء حتى احدث لك منه ذكر.

[2]

Artinya: Tidak ada tulangnya.

[3]

Peristiwa keluarnya air liur karena adanya hasrat dan nafsu.

[4]

Artinya: Berapa Pak? Kopi, Nasi Sop, gorengan dua, es teh, sama yang dimakan bapak berbaju putih tadi.

[5]

Artinya: Bapak yang mana mas?

[6]

Artinya: Yang sebelum saya tadi itu lo pak, yang pesan sop sepertinya.

[7]

Artinya: Tidak ada ya mas. Tidak ada yang pesan makan sebelum kamu. Yang duduk disitu itu pun sudah bayar. Tapi bajunya enggak putih. Dia pun sudah lama perginya.

KANTONG AJAIB DORAEMON

Ilustrasi: Abdurrahman Jtk
—

Ketika saya berkeliling pasar, di sebelah barat pasar, tepatnya depan klenteng, Klenteng Hok Tek Bio, saya jumpai pria berbaju kumuh. Pria itu tidak sedang mengemis atau meminta-minta, yang begitu diperangi oleh pemerintah dunia serial anime, namun pemerintah dunia tidak pernah memberikan apa-apa kepada mereka. Sementara, mereka memiliki tanggungan yang tidak mertanggung, yang mesti sesegera mungkin dijawab.

Kalau meminta dilarang dan yang melarang tidak pernah memberi, namun setiap kali mereka membuka peluang usaha selalu dihalang-halangi oleh perijinan, badan kesehatan, badan permutuan, badan pengualitasan, standarisasi dan upeti-upeti yang beragam jenisnya, baik yang upeti formal maupun upeti non formal. Padahal sebenarnya, jika kesemuanya itu pemerintah memberikan kebebasan pada mereka, asal tidak melanggar aturan sosial dan lingkungan, saya rasa mereka sudah bisa terbang sebagaimana Garuda. Sebab kita adalah anak-anak yang mewarisi kepak sayap Garuda—bukan kepak sayap banteng ya.

Pria berbaju kumuh itu ternyata membagi beberapa lembar uang warna ungu kepada Ibu penjual bawang merah, hasil panennya. Tanpa saya sebut berapa pecahan yang diberikannya, tenru kalian sudah mengetahui pecahan berapa kan? Lantaran kalau kita bicara empat huruf itu, tentu sudah menjadi pengetahuan di luar kepala kita, tanpa memunafikkan diri, kita sangat-sangat amat mencintainya. Bahkan cinta kepadanya bisa melebihi cinta kita kepada Tuhan semesta alam.

Beberapa meter, pria berbaju kumuh itu melangkahkan kaki menuju padagang horok-horok[1], janganan, gorengan yang jualannya masih banyak. Ia keluarkan beberapa lembar uang warna kuning, ungu dan hijau. Hal yang sama ia lakukan kepada pedagang lainnya yang dagangannya masih banyak dan sepi pembeli.

Pria itu membuat saya melupakan tujuan menuju loper koran, mengalihkan perhatian saya agar tertuju padanya. Saya teringat Kang Dul yang pernah mengatakan, akan ada manusia yang memiliki sifat kantong bolong, ketika kita menjumpainya, maka mulailah belajar ikhlas dan berbagi. Bahwa ada kepunyaan orang lain dalam kantong kita.

Kantong kan memang bolong sudah sejak penjahit membuat baju atau celana. Kalau tidak bolong, kita tidak akan bisa memasuk-keluarkan barang-barang dari kantong. Namun ada bolong yang lain yang membuat kebanyakan manusia meratapi nasibnya. Yakni bolong di bagian bawah, sehingga habislah uangnya, kecewalah yang sudah sah. Amankanlah dengan Allah dan rasulNya dan nafkahkanlah dari apa yang menjadikan kalian penguasa di dalamnya[2].

Sebagaimana hati, jika engkau tidak membuat lubang di hati, seperti lagunya Letto, engkau akan sesak oleh rasa yang teramat luas. Sementara hatimu begitu kecil disbanding rasa yang telah Allah ciptakan. Lubangilah hatimu atau luaskanlah hatimu. Tapi sebenarnya teori kantong bolong tidaklah pas jika kita terapkan pada kasuistik pria tersebut. Lebih pas jika pria itu punya kantong ajaib Doraemon.

Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini itu banyak sekali[3]. Namun tanpa kantong ajaib yang letaknya diantara dada dan perut, di tengah pas kedua dada kita, kita tak akan mampu mewujudkan apa-apa. Disanalah kita bisa merasa lapang, meski materinya sempit. Disanalah kita merasa kaya, meski uang sedikit. Disanalah kita sanggup pasrah atas penghianatan seseorang yang mengejar citra tanpa sadar ia tidak bertanggung jawab pada kewajibannya. Disanalah kita bisa merasa telah menerima apa-apa dengan syukur.

Kantong ajaib Doraemon mampu memberikan apa-apa kepada Nobita. Hanya satu yang belum didapatkan Nobita dari kantong ajaib Doraemon. Ialah perjodohannya dengan Shizuka. Akankah mereka bersatu atau tidak, nasibnya seperti pria itu. Karena saya belum melihatnya memiliki pasangan.
—

Rabu Kliwon, 30 Dzulqo’dah 1438/ 23 Agustus 2017

[1]

Horok-horok: makanan khas Jepara yang terbuat dari tepung, biasanya menjadi santapan pendamping Bakso atau makanan pokok pengganti Nasi.

[2]

Surat Al Hadid ayat 7:

امنوا بالله ورسوله وانفقوا مما جعلكم مستخلفين فيه قلى فالذين امنوا منكم وانفقوا لهم اجركبير.

[3]

Penggalan lirik lagu opening anime Doraemon.