Tampilkan postingan dengan label HB. Arafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HB. Arafat. Tampilkan semua postingan

KEINDAHAN POS 3 KE POS 5 YANG TAK TERKIRA

(SERI 7 MENUJU PUNCAK UNGARAN)

—

Usai beristirahat di Pos 3, kami lanjutkan pendakian. Kami terus melangkah dan kalau lelah ya istirahat. Saking banyaknya istirahat, saya pun lupa berapa kali istirahat yang kami alami. Langkah demi langkah kami jalani, hingga sampai di Pos 4, saya kaget. “Lo kok ada Pos 4? Seingatku dulu, setelah Pos 3, langsung melewati kolam dan kebun teh.” batin saya, yang akhirnya terjawab ketika kami pulang dari pendakian.

Di pos 4, kami terus melangkah mengikuti penanda menuju Puncak. Penandanya mengarahkan kami untuk belok ke kiri, meski dalam ingatan saya, sepertinya lurus. Beberapa langkah dari pos 4, kami melihat bayi matahari dari celah-celah dedaunan pohon. Cahaya yang menyemburat dari celah-celah itu, kami nikmati sejenak. Kami pandangi indahnya langit yang berganti warna, dari hitam pekat ke biru yang bercampur merah orange kekuningan—warna apa lagi ini? Intinya kami melihat indahnya sunrise yang baru muncul diantara pepohonan Gunung Ungaran.

Usai menikmati sejenak, kami lanjutkan pendakian. Meski sedikit kecewa, lantaran tidak bisa menikmati sunrise di puncak gunung, kami akan mencari nikmat-nikmat lain yang bisa dinikmati dan disyukuri. Takdirnya sudahlah begitu, diantara pos 4 dan pos 5, matahari sudah terbit. Langkah demi langkah kami gerakkan, medan pendakian semakin berat, sementara stok minuman tinggal beberapa teguk saja. Ini menjadi fase terberat bagi Ulfa dan Yusril. Namun saya harus menyemangati mereka, bahwa puncak semakin dekat. Berkali-kali kami istirahat untuk menuju Pos 5—yang awalnya tidak ada dalam pikiran saya, usai pos 4 itu pos 5. Dalam pikirku, usai pos 4 ya puncak.

Kami menjumpai tebing-tebing dan tanjakan. Tampak Yusril dan Ulfa mulai patah semangat. Meski begitu saya selalu berbicara, “kita hampir sampai”, agar semangat mereka untuk sampai puncak tak pupus. Kami lewati tanjakan curam, yang kebetulan ada tali rotan untuk kami pegangi. Usai melewatinya, tampak pos 5 yang saya kira puncak. “Iku lo puncak wis ketok.” ujar saya yang baru pertama lewat jalur pos 4 hingga ke puncak ini.

Ketika hampir sampai di pos 5, kami menemui tebing-tebing dan pohon yang bunganya amat banyak. Bunga itu jarang kami temui di dataran rendah. Indah banget pokoknya. Kami bertiga merangkak jalan menuju ujung tebing yang pemandangannya sungguh cakep untuk dibuat swafoto. Selain sebagai istirahat, ibadah generasi milenial, swafoto kami lakoni.

Cekrek, cekrek, cekrek. Kami bergantian foto memfoto. Perkampungan Promasan tampak, Puncak Gendol juga tampak. Selain itu, Kebun Teh Medini yang terhampar diantara Promasan, Gendol dan Ungaran tampak cakep. Bunga-bunga berwarna pink menghiasi sekitaran tebing. Bunga apa namanya saya tidak tahu, yang saya tahu bunga itu bukan bunga pinjaman maupun simpanan bank.

Saya menjerit, aaaaaaa. Ulfa pun ikut menjerit, aaaaaa. Rasa sesak di dada dan lelah di kaki terasa lega. Di peristirahatan ini, kami bertiga tidak minum seteguk air pun, kecuali air ludah yang kami telan lagi untuk membasahi tenggorokan kering kami. Sementara itu, saya masih punya kopi yang membasahi bibir disela hisapan rokok pro merah. Kami atur napas sejenak untuk melanjutkan ke Pos 5 (yang sekali lagi, kami kira puncak).

Bagaimana kelanjutan ceritanya, ikuti terus HBArafat.com. Jangan lupa untuk membuka youtube kami: HB. Arafat dan Hayya Channel. View, Like, Subscribe dan Share ke teman-temanmu ya lur. Agar dapur kami tetap ngebul setebal kabut Gunung Ungaran. See you in 8th series.

—

Semarang, 2 Dzulhijjah 1443

SEPATU PANTOFEL & SEPATU YANG BASAH

taken by: Sajidah Ulfa

(SERI 6 MENUJU PUNCAK UNGARAN)

—

Di Pos 1, saya kembali dibuat marah. Kali ini yang membuat marah itu Ulfa. “Menengo cocotmu! ” Seru saya, saat Ulfa ngomong: kayaknya menarik kalau uji nyali disini. Barangkali kalau saya tidak marah, pembahasan akan berlanjut ngegosipin mbak kunti, mas cong, mbah gendru, dek yul dan saudara-saudaranya. Masih aman jika hanya sebatas pembahasan dan pergosipan semata. Lah kalau yang diperbincangkan dan dipergosipkan datang, bagaimana nasib Ulfa dan Yusril, eh saya juga nding. Gimana jadinya, gimana? Setelah itu, obrolan kembali membahas hal lain yang sekiranya tidak mengancam dan membahayakan kami.

Waktu terus berjalan, kami pun mesti berjalan menuju Pos 2. Kami gerakan kaki untuk melangkah. Langkah demi langkah kami jalani. Nuansa tetap sama seperti sebelumnya, gelap gulita dan gemericik air terdengar. Medan semakin menanjak namun masih terhibur oleh beberapa jalan landai. Percabangan demi percabangan jalur kami temui, hingga kami menemui percabangan yang membingungkan karena gelapnya hari.

Saya mencari jalur yang lurus, Yusril kuminta melihat plang sebelah kanan yang berjarak 10 meteran. Permintaan saya ternyata membuat Yusril terjeblos ke aliran air pegunungan. Maklum gelap gulita, senter yang dibawanya diarahkan ke plang penunjuk arah. Sepatu Yusril basah, tapi begitulah resiko dari sebuah pendakian. Sepatu basah, bahkan kalau sedang turun hujan, bisa-bisa seluruh tubuh basah. Sepatu basah dan kotor itu hal yang wajar. Yang tidak wajar itu Ulfa, ke pegunungan kok pakai sepatu pantofel.

Akhirnya kami belok kanan, mengikuti jalur yang dipilih Yusril. Kembali ke formasi awal, saya yang di depan. Kali ini, kami temui jalur yang menanjak tajam. Medan kali ini tanjakan tajam, sementara undak-undakannya terbuat dari tanah dan akar yang menyampur. Kami bahu membahu, saling ulurkan tangan agar semuanya selamat sampai tujuan.

Sepanjang menuju Pos 2, kami tercatat sudah tiga kali istirahat. Napas mulai tampak ngos-ngosan semuanya. Meski begitu, kepulan asap rokok tetap menemani tiap hembusan napas saya. Pos 2, kami lewati begitu saja. Perjalanan menuju Pos 3 dengan medan yang semakin berat buat langkah-langkah, khususnya buat para pemula. Pada perjalanan menuju Pos 3, suara adzan terdengar, kami nikmati sebagai pelindung, sebagai wangsit keselamatan. Entah suara adzan itu berasal dari kampung mana. Intinya kami berjalan di tengah hutan Gunung Ungaran.

Terhitung 3 kali pula, kami istirahat antara Pos 2 dan Pos 3. Di Pos 3, kami istirahat, menyandarkan geger, menyelonjorkan kaki, dan mengatur ritme napas kami. Air mineral yang kami bawa menipis. Pikir saya waktu itu, nanti diisi di kolam sehabis Pos 3, sebelum kebun teh. Di Pos 3, kami juga bersepakat untuk mengqodo’ shubuh kami. Maafkan kami Gusti, di tempat itu tak ada air dan kami sedang kelelahan. Kalau meminjam cuitan Gus Mus, “Tuhan, kami sangat sibuk”. Begitulah kenyataan kami yang penuh dosa dan berharap sangat sibuk itu menjadi kesibukan meminta ampunan dariNya dan menemukanNya.

Maafkan kami pula yang tentunya banyak salah dan dosanya. Maafkan saya juga yang terpaksa memotong cerita selanjutnya. Tetap ikuti HBArafat.com dan jangan lupa Subscribe channel youtube kami: HB. Arafat dan Hayya Channel, agar kami tetap bersemangat menyajikan perjalanan dan pengalaman kami ke manteman semua. Sampai jumpa di seri ketujuh. 

—

Semarang, 1 Dzulhijjah 1443

HIDLIR, BUKAN?

Ilustrasi: Abdurrahman Jtk
—

“Waalaikumussalam” Dia hanya menjawab begitu, kemudian melepaskan tangannya, selanjutnya pergi kea arah selatan begitu saja. “Jika kau mengikutiku, maka jangan menanyaiku sesuatu apapun sampai aku sendiri menceritakannya kepadamu kenyataan sebenarnya.[1]” ujarnya sebelum pergi.

Sebenarnya saya mau menyusulnya, namun terhalang Kang Dul yang akan kutinggal di meja makannya. Selain itu, jika pun tak ada Kang Dul, mungkin juga saya tidak berani mengikutinya, lantaran saya bukan tipikal manusia yang kuat dan tahan untuk puasa, apalagi berpuasa dalam hal bertanya. Kalau Nabi Musa alaihissalam tidak tahan puasa bertanya pada Nabi Hidlir alaihissalam sampai tiga kali, barangkali saya akan batal dari puasa bertanya hingga ribuan kali.

Oleh karena itu, saya kembali ke meja makan menghampiri Kang Dul, membawa sedikit penyesalan lantaran tidak memiliki keberanian bertanya kepada pria itu, meski sekedar namanya saja. Boro-boro bertanya, saya menanyakan ihwal keringat basah—masak ada keringat kering ya, kalau kering namanya nasi rames dong— di leher belakang saya pada diri sendiri saja tidak mampu, apalagi bertanya pada pria tersebut. Merinding sudah melanda saya.

“Siapa itu Kang?” Tanya Kang Dul disaat keringat basah itu belum kering.

“Sepertinya Beliau itu Hidlir, Kang.”

“Kok sampeyan bisa tahu, Ia Hidlir?”

“Lah pas saya ajak salaman, ibu jarinya lembek banget Kang. Ora ono balunge[2].”

“Bisa saja itu bukan Hidlir. Apa setiap yang ibu jarinya tak bertulang itu pasti Hidlir?”

Sebenarnya sudah sejak awal ketika Kang Dul bertanya, saya mestinya tidak menjawab dengan jawaban yang linier. Harusnya kalau dia tanya utara, saya jawab selatan. Namun bagaimana lagi, hidup saya sudah terlanjur linier, bahkan sudah sejak dalam kandungan., sehingga jawaban-jawaban yang saya tuturkan kepadanya hanya sebatas pengetahuan yang saya ketahui.

Barangkali, selain itu, saya masih terkena efek gugup sehabis bertemu dan bersalaman dengan pria yang saya sangka Nabi Hidlir alaihissalam. Lucunya, saya kok masih percaya diri bahwa saya sudah mencapai pencapaian bisa bersalaman dengan Nabi yang didaulat sebagai guru oleh salah satu Nabi special, Nabi Musa alaihissalam, sesepuh Bangsa Israel itu.

“Setahu saya, manusia yang ibu jarinya lembek ya cuma Nabi Hidlir saja Kang.” Saya berusaha menjawab seadanya, setahu saya, semampu saya. Semoga Kang Dul tidak menelisik ke wilayah yang aneh-aneh.

“Analisis dan asumsi sampeyan ngawur Kang. Informasi sejarah hanya menjelaskan salah satu ciri-ciri Nabi Hidlir itu jempolnya tidak bertulang. Tapi tidak menutup kemungkinan ada manusia, selain Beliau, juga memiliki kesempatan dan peluang jempolnya tidak bertulang.”

“Lalu Beliau itu siapa Kang?” Saya balik bertanya kepada Kang Dul dan menceritakan peristiwa yang saya temui dari awal, dari depan Klenteng hingga tadi, di depan Warung Pak Kar.

“Tadi Ia mengenalkan namanya padamu tidak Kang?” Bukannya merespon dengan jawaban dan pandangan, malah menimpali dengan pertanyaan. Duh Kang Dul, duh Kang Dul.

“Tidak Kang.”

Kang Dul melanjutkan makan, saya menyalakan rokok, sementara jawaban dan pertanyaan diam satu sama lain. Pertanyaan itu menggigilkan panasnya suasana Pasar Welahan. Jawabannya tinggal di awing-awang imaji. Sop ayam yang perlahan-lahan masuk ke mulut Kang Dul, membuat hasrat saya untuk makan timbul. Akan tetapi saya berusaha membujuk diri untuk tidak menyenangkan perut yang masih menyisakan kenyang.

Daripada ngiler[3] melihat Kang Dul makan, saya pergi ke Pak Kar, pemilik warung ini, membayarkan apa yang telah dimakan Kang Dul, saya dan pria yang saya sangka Nabi Hidlir tadi. Sebab setahu saya, pria tadi belum membayar apa yang dimakan dan diminumnya. Ia langsung pergi begitu saja.

“Pak, pinten? Kopi, nasi sop, gorengane kaleh, es teh, kaleh ingkang dipun maem bapak ingkang klambi putih wau.[4]” Sembari saya tunjuk tempat duduk pria tadi.

“Bapak sing endi, mas?[5]”

“Ingkang saderenge kula wau lo pak, ingkang mesen sop, kadose.[6]” Saya berusaha menjawab yang saya ketahui.

“Mboten wonten yo mas. Mboten wonten ingkang mesen maem saderenge sampeyan. Ingkang lenggah ten mriku niku pun bayar. Ning kaose mboten putih. Ning pun dangu kesahe.[7]”

Mendengar jawaban Pak Kar, merinding yang saya alami semakin menjadi-jadi. Merindingnya tentu di dalam, tidak dalam mode tampak oleh orang lain, kecuali orang itu sudah mengenal saya. Saya semakin bertanya-tanya, kok bisa? Itu Hidlir, bukan?

—

Jum'at Pahing, 2 Dzulhijjah 1438/ 25 Agustus 2017

[1]

Surat Al Kahfi ayat 76::

قال فان اتبعتني عن شيء حتى احدث لك منه ذكر.

[2]

Artinya: Tidak ada tulangnya.

[3]

Peristiwa keluarnya air liur karena adanya hasrat dan nafsu.

[4]

Artinya: Berapa Pak? Kopi, Nasi Sop, gorengan dua, es teh, sama yang dimakan bapak berbaju putih tadi.

[5]

Artinya: Bapak yang mana mas?

[6]

Artinya: Yang sebelum saya tadi itu lo pak, yang pesan sop sepertinya.

[7]

Artinya: Tidak ada ya mas. Tidak ada yang pesan makan sebelum kamu. Yang duduk disitu itu pun sudah bayar. Tapi bajunya enggak putih. Dia pun sudah lama perginya.

PERJALANAN AWAL PENDAKIAN

(SERI 5 MENUJU PUNCAK UNGARAN)

—

Setelah mendapat banyak informasi dari mbah Google dan saya melangitkan doa dalam dada, akhirnya kemantapan hati untuk mendaki puncak Ungaran terpatri. Kami memulai pendakian dengan bekal sholawat dan salam kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan memohon pendakian ini diliputi penjagaan Allah dari awal hingga akhir. Saya meminta Ulfa dan Yusril untuk senantiasa bersholawat, meski sekadar dalam dada. Sholawat dan doa menggema dalam dada, kaki menapak setiap jejak-jejak menuju Pos 1.

Pemandangan yang masih gelap gulita, mengharuskan kita untuk tetap menatap bawah, melihat langkah. Sebab sebelah kanan sepertinya jurang, lantaran hanya hitam yang tampak di mata kami, selain tempat-tempat yang tersorot cahaya senter kami. Pada setiap jejak langkah kami, terdengar suara hewan-hewan nokturnal dan gemericik air yang mengalir di pralon, sumber air warga. Langkah demi langkah kami tapaki dengan hati-hati.

Di beberapa meter awal kami jumpai tanjakan yang terbilang ringan. Namun usai tanjakan itu, Ulfa dan Yusril meminta istirahat dahulu. Maklum, pendaki newbie yang tidak menyiapkan fisiknya dengan berolahraga dan joging sebelumnya. Kami istirahat sejenak, sembari obrolan tetap mengudara. Obrolan kami dari awal pendakian sedikitnya memecah keheningan dini hari yang hanya terdengar hewan nokturnal dan gemericik air dalam pralon.

Tiba-tiba Yusril membuat saya marah. Ketika dia membahas apakah ada harimau di hutan gunung Ungaran. “Bahas liyane!” tegur saya. Dalam keyakinan saya, setiap hutan di Jawa pasti ada harimaunya, hanya saja ada yang menampakkan, ada yang tidak. Ada mata yang mampu melihat, ada yang tidak mampu. Namun membahas demikian, tampaknya tidak elok untuk dibicarakan. Lantaran ada dua pemula yang barangkali tidak siap bila harimau benar-benar menampakkan dirinya. Itu pertimbangan yang membuat saya harus marah.

Kemarahan saya terjadi lantaran sebelum berangkat mendaki, saya tidak memberi wawasan mengenai hal-hal yang tidak patut untuk dibicarakan pendaki, kecuali pendaki itu sudah level pro. Saya sendiri tidak terpikir untuk melarang ini, melarang itu, lantaran kebiasaan saya yang tiap memulai apapun selalu saja berlandaskan tanpa memikirkan larangan-larangan. Karena setiap larangan terasa mahal untuk menjadi bekal suatu perjalanan, kecuali kita sudah mengalami kejadian yang mengharuskan kita melarang suatu hal.

Kembali pada pendakian kita yang sempat terjeda istirahat pertama di beberapa meter awal. Kami melanjutkan pendakian dengan jalur yang masih terbilang datar dan standar. Meski begitu, terdengar suara ngos-ngosan dari dua manusia di belakang saya. Tampaknya mereka berjalan dengan semangat tinggi, tanpa diimbangi stamina raga yang tinggi. Terhitung sudah tiga kali kami istirahat untuk sampai Pos 1 dengan sekali tempat untuk meneguk air mineral. Pemandangan dan nuansa yang sama seperti saat langkah awal kami menapak.

Bagaimana kisah pendakian kami ke Puncak Ungaran? Tetap ikuti HBArafat.com dan jangan lupa Subscribe channel youtube HB. Arafat dan Hayya Channel, agar kami tetap bersemangat menyajikan perjalanan dan pengalaman kami ke sobat-sobat.

—

Semarang, 30 Dzulqo'dah 1443

DARI HUJAN BASAH, HINGGA DINI HARI YANG MENCEKAM

(SERI 4 MENUJU PUNCAK UNGARAN)

—

Hujan mengguyur Basecamp Mawar, terpaksa saya meminjam kunci mobilnya Mas Barok. Sekitar pukul 22.00 WIB, hujan mengguyur, membasahi bumi bagian Mawar. Padahal saya dan Yusril sudah memasukkan badan ke sleeping bag. Lantaran hujan, kami berdua harus berpindah tempat. Sebenarnya ada pilihan di warung, musholla atau basecamp nya, namun kami lebih memilih ke mobil. Di mobil, sembari ngecharge smartphone, saya putar radio yang lama tidak mengusik telinga saya. Saya tidur di jok sopir yang saya mode turon, sementara Yusril tidur di belakang, lantaran jok belakang mode lipat, sehingga luas.

Sekitar Pukul 00.30 WIB, saya terbangun, saya buka jendela mobil, ternyata hujan sudah reda. Saya nyalakan rokok, bal bul bal bul, sembari nyeruput kopi di dashbord pintu kanan. Usai ngopi dan ngudut, sekitar pukul 01.00 WIB, saya bangunkan Yusril untuk pindah tempat ke sebelah tenda. Sesampainya di sebelah tenda, ternyata Ulfa belum tidur. Alhasil, kami bikin kopi, susu dan teh untuk menghangatkan tubuh di suhu Mawar yang semakin dingin. Kami ngopi— ngopi tapi ada yang ngeteh dan nyusu, bertiga.

Usai bikin kopi, berganti bikin indomie, nugget, sosis dan tempe goreng. Agar persiapan hiking ke puncak Ungaran kondisi tubuh sudah kenyang. Apalagi Ulfa belum tidur sama sekali, tidak seperti saya dan Yusril, meski tidur sejenak, setidaknya sudah membuat tubuh fit. Semua makanan sudah matang, kami pun makan, tetap dengan mode makan bergantian.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB, kami segera bergegas, bersiap-siap membawa barang yang perlu kami bawa. Smartphone, senter, air mineral, dan powerbank kami siapkan. Menariknya, di dalam tas Ulfa, beberapa kosmetiknya tidak dikeluarkan. Dia pikir, sampai puncak bisa berdandan lalu berswafoto. Bagaimana nasib kosmetiknya? Lihat saja nanti.

Sebelum berangkat, tak lupa, kami buang hajat dahulu, meminimalisir limbah yang terbuang di alam bebas. Sekitar pukul 03.30 WIB kami berjalan meninggalkan campground, berjalan memasuki jalur pendakian. Hanya kami bertiga yang tampak memulai pendakian di waktu tersebut. Langkah demi langkah kami tapaki, gelap gulita menjadi pemandangan kami. Formasi yang kami pakai PWP, Pria-Wanita-Pria, Saya di depan, Ulfa di tengah dan Yusril di belakang.

Beberapa meter kami lalui, saya merasa ragu, kalau jalur yang kami tapaki adalah jalur pendakian, meski dari awal sudah ada petunjuk bahwa jalur yang kami lalui adalah jalur pendakian. Keraguan saya lantaran jalur yang dulu pernah saya lalui, seingat saya tampak lebar, bisa dilalui oleh dua orang berdampingan. Namun pada dini hari itu, jalurnya hanya bisa dilalui satu orang saja. Ilalang yang tampak tinggi-tinggi membuat keraguan saya tambah.

Terpaksa saya mengajak balik ke petunjuk awal yang mengarahkan ke jalur puncak. Pendakian belum dianggap mulai kok sudah balik. Betapa lucunya saya ini. Sesampainya di penanda jalur, kami duduk di batang pohon yang roboh. Saya searching, apakah jalur pendakian via Basecamp Mawar aman untuk dilewati? Ternyata informasi mbah Google menyatakan aman. Tapi saya masih mempertanyakan kok cuma kami bertiga saja yang memulai pendakian waktu itu.

Perenungan saya lakukan, keputusan maju mundurnya di tangan saya. Apakah kami bertiga jadi mendaki gunung Ungaran atau tidak? Kita lanjut di seri kelima. Tetap ikuti postingan-postingan HBArafat.com dengan mengisi kolom buku tamu. Jangan lupa subscribe channel youtube HB. Arafat dan Hayya Channel, agar kami terus membara dalam berkreasi. See You. 

—


Semarang, 29 Dzulqo'dah 1443

DALAM SATU TENDA, HANGATNYA KEBAHAGIAAN TERASA

(SERI 3 MENUJU PUNCAK UNGARAN)

—

Daripada bingung lantaran persewaan tenda yang habis, saya memaksa untuk masuk area campground dulu. Masalah tenda, pikir keri. Kami berdelapan masuk. Saya ke loket tiket dahulu, ditanyai berapa orang, dari mana, kendaraannya apa dan pihak Mawar Campground meminta identitas saya. Ternyata saya salah hitung—hanya menghitung 6 orang saja, sehingga tagihan tiketnya hanya Rp. 75.000,- saja. Tagihan tersebut terinci sebagaimana berikut: Rp. 10.000,-/orang untuk tiket masuk, dikali 6 sehingga Rp. 60.000,-. Untuk parkir Mobil sebesar Rp. 10.000,- dan untuk motor Rp. 5.000,-. Tiket masuk tersebut tidak hanya memasuki Mawar Campground saja, namun kita bisa menjelajahi seluruh Gunung Ungaran, asalkan kakimu kuat saja. Bisa camp saja, bisa sampai puncak, bisa ke kebun teh yang di deket Promasan, bisa ke Gedong Songo sebenarnya dan bisa tembus ke mana-mana, asal baliknya nanti ke Mawar Campground lagi.

Setelah masuk ke area campground, tepatnya masih di parkiran, Mas Barok berpikir untuk turun pakai motor mengajak saya menyewa tenda. Sebenarnya di desa terakhir sebelum area wisata, ada persewaan tenda. Namun saya mamang akan ketersediaannya lantaran ini malam minggu, malamnya orang healing dan menghibur diri dari hiruk pikir industri dan kapitalisme. Sehingga saya memutuskan untuk, nanti yang di dalam tenda itu: Mas Barok, Teh Tika, Ulfa dan Para Bocil. Saya dan Yusril tidur di luar beralaskan matras, namun dua sleeping bagnya kami pakai berdua. Tok, tok, tok, begitulah keputusannya.

Kami melanjutkan jalan kaki, sekitar 10 meteran, mencari lahan untuk mendirikan tenda. Meski 10 meteran saja, kalau tidak terbiasa jalan nanjak, akan ngos-ngosan. Akhirnya kami mendapatkan tempat, mendirikan tenda pun dimulai. Saya, Yusril dan Ulfa bekerja mendirikan tenda. Sebenarnya Mas Barok hendak ikut bekerja, namun berhubung ada tiga bocil, maka baiknya Mas Barok dan Teh Tika menemani mereka saja. Sat set sat set, kami bekerja mendirikan tenda. Mas Barok dan Teh Tika menemani anak-anak makan. Tidak butuh waktu lama, sekitar 25 menitan, akhirnya tenda bisa berdiri menghadap view perkotaan yang tampak dari atas.

Tenda sudah berdiri, beberapa barang yang perlu dimasukkan, kami masukkan. Tampak para bocil sangat bahagia, lantaran mereka akan merasakan tidur di tenda untuk pertama kalinya. Apalagi, ngecampnya di pegunungan. Sungguh bahagia mana lagi yang hendak mereka dustakan?

Kemudian menyalakan kompor, membuat kopi tentunya. Saya nikmati betul bagaimana sejuknya Mawar dan kopi yang sudah matang. Saya sendiri bertugas sebagai juru masak. Yusril bagian riwa riwi ke kran air mengambil air. Air di Mawar selain untuk kebutuhan nggodhog banyu, juga sebagai air minum. Air di Mawar bisa langsung diminum, lantaran airnya langsung dari pegunungan, tanpa harus dikemas sebagaimana teman-teman beli di minimarket-minimarket. Tampak Mas Barok dan Ulfa mengambil selimut, bantal dan tas dari Mobil. Teh Tika menemani para bocil yang bahagia kejar-kejaran dan mengumpulkan ranting kayu. Konon hendak mereka buat untuk api unggun.

Waktu terus berputar, matahari pun mulai tenggelam, yang berpamitan hanya teletubies. Kami tetap asyik bercengkrama di atas matras yang tergelar di samping tenda. Malam sudah datang, semuanya menjamak sholatnya di akhir. Qisya mengeluarkan permainannya, selembar kertas yang terdapat permainan ludo, ular tangga, catur, monopoli dan satunya lagi apa namanya saya lupa. Qisya memilih bermain ludo. Dalam permainan ludo yang bermain hanya empat orang saja. Saya, Yusril, Amir/Ulfa, Qisya/Mas Barok. Meski pemainnya maksimal hanya empat pemain, nyatanya bisa dibuat enam orang. Lantaran Qisya dan Amir terkadang main lari-lari menggunakan senter bersama Alka, sehingga mereka diganti Mas Barok dan Ulfa.

Seru, Asik, Bahagia pokoknya. Bermain ludo dengan pencahayaan seadanya, membuat keakraban dan kegayengan makin terasa. Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, dengan pemenangnya tentunya saya dong. Meski awalnya saya tidak yakin bisa menang, lantaran kalah start. Namun, namanya juga permainan, bisa menang, bisa kalah, dan itu hanya sekadar finite game saja dalam sebuah infinite game yang acuannya tidak menang-kalah, melainkan bertahan hidup selama-lamanya.

Usai main ludo, saya membuatkan api unggun untuk kebahagiaan anak-anak. Usai api unggun jadi, saya kembali pada tugasnya, sebagai juru masak. Waktunya ind*mie time. Selain masak mie, saya juga menggoreng tempe, sosis dan nugget. Karena kompornya kecil, juga media masak dan makannya kecil, waktu makan bergantian. Agar hangatnya masakan terasa di dalam, lantaran di luar tubuh terasa sejuk. Masak dan makan berjalan begitu saja, tanpa terasa waktu sudah larut.

Apa yang kami lakukan selanjutnya, ikuti terus HB.Arafat.com. Jangan lupa subscribe youtube HB. Arafat dan Hayya Channel, agar kami selalu survive menyuguhkan hidangan dunia yang kami nikmati. sampai jumpa di seri keempatnya.

—

Semarang, 28 Dzulqo'dah 1443

HARI YANG DITUNGGU-TUNGGU TIBA

(SERI 2 MENUJU PUNCAK UNGARAN)

—

Rencana ngecamp sudah jauh-jauh waktu tergagas sebagai liburan keluarga yang murah— namun tidak murahan— dan mengasyikkan. Ada tiga pilihan, antara Mawar, Kopeng dan Waduk Sermo. Dari ketiga destinasi itu, saya lebih mengarahkan dan meyakinkan untuk memilih Mawar. Lantaran Teh Tika dan Mas Barok akan menjalani first campnya, sehingga saya anjurkan memilih Mawar.

Ada beberapa alasan, pertama, fasilitasnya lengkap. Di Basecamp Mawar kita akan disuguhi fasilitas toilet, tempat ibadah, warung, aliran listrik dan tentunya signal yang kuat. Alasan kedua, suhu yang tidak dingin banget untuk pemula yang sedang melakukan camping. Alasan ketiga ialah Mawar merupakan camp ground yang ramah untuk anak.

Alasan selanjutnya ialah Basecamp Mawar menawarkan view yang eksotis. Kalau malam hari, kita disuguhkan pemandangan lampu-lampu kota yang seperti bintang-bintang malam, hanya saja bintangnya berasa di bawah. Kalau siang hari, khususnya pagi hari, kita akan disuguhkan pemandangan sunrise yang menawan. Selain sunrise, pemandangan gunung-gunung dan bukit di sekitar Gunung Ungaran yang menjadikan view tambah cakep. Ditambah lagi kalau ada fenomena turun kabut, itu menjadi pemandangan seperti kita sedang di kawasan Dieng.

Sebenarnya masih banyak alasan lainnya, namun itu saja ya. Intinya di Mawar, saya paham medannya, sehingga ketika membawa anak-anak: Qisya, Alka dan Amir, amat sangat safety dan friendly. Dan hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, Sabtu Pahing, 25 Dzulqo’dah 1443 yang bertepatan dengan 25 Juni 2022.

Dari Jogjakarta, Mobil Calya membawa Mas Barok, Tek Tika, Ulfa dan para bocil. Sementara dari arah Semarang, Saya mengajak Yusril menunggangi Beat FI. Dari kos, saya menghampiri Yusril di rumahnya kecamatan Mijen. Selanjutnya kami pergi ke Mawar Campground melewati jalur Boja, Limbangan, Sumowono hingga Bandungan. Dalam perjalanan, kami disuguhkan pemandangan alam Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang yang eksotis, cakep banget, hingga sampai di loket masuk depan Umbul Sidomukti, pemandangan-pemandangan itu tak jemu memanjakan mata kami.

Sesampainya di loket masuk depan Umbul Sidomukti, kami ditagih tiket sebesar Rp. 5.000,-/ Orang. Karena 2 Orang, sehingga tagihan kami sebesar Rp. 10.000,-. Dengan harga segitu, Teman-teman bisa menikmati banyak area, salah satunya yakni Mawar Campground sebagai tujuan kami, Pondok Kopi, Pondok Panorama, Kolam Renang Umbul Sidomukti dan masih banyak area wisata dan healing, yang tentunya tiap tempat memiliki kebijakan tiket atau tidaknya masing-masing. Ketika memasuki loket tiket tersebut, teman-teman juga sudah bisa menikmati pemandangan alam Gunung Ungaran tanpa harus memasuki kawasan wisata lain. Dengan harga segitu, bagi saya worth it banget lah.

Setelah di penarikan tiket depan Umbul Sidomukti, Motor Beat FI kami pacu lagi menuju Mawar Campground. Sekitar habis ashar, kami sampai di Mawar Campground. Di depan gerbang masuk Mawar Campground, kami temui Mas Barok, Teh Tika, Ulfa dan para bocil. Ternyata Mas Barok mengeluh, lantaran persewaan tenda di Mawar Campground habis. Maklum lah malam minggu, banyak wisatawan yang mencari tempat healing mereka. Tentu hal tersebut membuat kami agak terusik, lantaran saya hanya membawa satu tenda saja. Meski kenyataannya kami membawa dua carier.

Bagaimana solusi mengatasinya, tetap ikuti HBArafat.com. Jangan lupa Subscribe channel youtube: HB. Arafat dan Hayya Channel, agar kami tetap survive menyuguhkan keindahan dan keanekaragaman Bumi ini. Nantikan kelanjutannya di seri 3 ya.

—

Semarang, 27 Dzulqo'dah 1443

MENGINGAT YANG TERLAMPAUI, UNTUK KEMBALI LAGI

(SERI 1 MENUJU PUNCAK UNGARAN)

—

Gunung Ungaran menjadi salah satu destinasi yang rekomended buat pendaki-pendaki newbie, khususnya yang berdomisili di Jateng-DIY. Selain lokasinya yang strategis dari semua arah, ketinggian gunung ini termasuk dalam kategori standart. Ketinggian puncak Gunung Ungaran sekitar 2.050 mdpl, sehingga termasuk gunung yang tidak tinggi banget, tidak juga berkategori rendah. Untuk mencapai puncaknya ada empat jalur pendakian, yakni Basecamp Mawar, Candi Gedong Songo, Promasan dan Parantunan. Dari keempat jalur tersebut, hanya dua jalur yang pernah saya lewati, yakni Basecamp Mawar dan Promasan.

Pertama kali saya ke Puncak Gunung Ungaran ialah pada 25 Desember 2014 melalui jalur Basecamp Mawar. Waktu itu, karena perjalanan menuju Basecamp Mawar malam hari sehingga tidak bertemu penjaga pos penarikan tiket sebelum Umbul Sidomukti. Lumayan lah irit, lantaran waktu itu, kami berenam tidak memiliki cukup bekal uang, sebab sudah dibelanjakan untuk bekal di puncak. Sebagai newbie waktu itu, saya sudah melatih fisik dengan saban hari jogging dan olah raga selama sepekan. Sehingga, ketika menjalani pemuncakan waktu itu, tidak jegleg.

Pada perjalanan pertama itu, kami melalui jalur dari Basecamp Mawar melewati pos 1, pos 2, pos 3, lalu melewati kolam, kebun teh hingga sampai puncak. Menariknya, selain momentum pengibaran bendera Merah Putih, kami melakukan ritual Maulid Nabi. Hal yang jarang dilakukan oleh para pendaki gunung. Barangkali itu juga merupakan Maulid Nabi pertama di puncak gunung, mungkin secara literally saya yang tidak punya wawasan mengenai Maulid Nabi di puncak gunung. Sehingga saya menganggap itu satu-satunya Maulid Nabi di puncak gunung.

Mengenai perjalanan kedua saya, saya lakoni berdua, masih via jalur Basecamp Mawar, namun kami tidak mendirikan tenda. Sesampainya puncak, menikmati Puncak Ungaran beberapa jam, lalu turun. Sementara pada perjalanan ketiganya, masih saya menjalaninya berdua. Hanya saja, kami melalui jalur Promasan, yang terbilang dekat. Perjalanan ketiga ini pun sama, kami tidak mendirikan tenda. Sampai atas lalu turun.

Pada perjalanan ke empat, saya lakoni sendirian, tidak membawa apa-apa kecuali air mineral yang saya isi ulang dengan air asli pegunungan. Perjalanan ini teramat mengasyikkan, dan cepat. Lantaran tidak saling menunggu satu sama lain. Hanya berdamai pada diri sendiri, kalau lelah, ya istirahat, kalau udah tegar, ya jalan lagi.

Begitulah ke empat perjalanan saya menuju Puncak Ungaran, yang kemudian mengantarkan saya mengajak saudara-saudara: Mas Barok, Teh Tika, Ulfa, Yusril, Qisya, Alka dan Amir untuk sekedar ngecamp di Basecamp Mawar pada 25-26 Juni 2022. Selain ngecamp di Basecamp Mawar, kami bertiga: Saya, Ulfa dan Yusril juga melakukan perjalanan menuju Puncak Ungaran.

Selengkapnya kita lanjut di seri kedua. Jangan lupa subscribe Channel HB. Arafat dan Hayya Channel, agar kami terus survive membagi banyak hal yang ada di Bumi ini.

—

Semarang, 26 Dzulqo'dah 1443

PEMERINTAHAN ALA RASULULLAH, INDONESIA MAJU (BAGIAN 4)

—

Begitu kiranya empat hal yang bisa saya garisbawahi mengenai perbedaan antara pemerintahan Rasulullah dengan pemerintahan kita. Mengenai detail sistem bagaimana, nilai-nilainya seperti apa, mentalitasnya bagaimana dan hukumnya seperti apa, cobalah pemerintah sowan pada mutiara-mutiara yang terkandung di negeri ini. Tidak satu dua mutiara yang tersebar di negeri ini, puluhan, ratusan bahkan jutaan mutiara tersebar di negeri ini.

Sebagai contoh, coba saja pemerintah sowan ke PBNU atau ke PP Muhammadiyah mengenai sistem, nilai, mental dan hukum yang berlaku pada zaman Rasulullah SAW. Tentu tidak lantas kita copas plek apa yang ada di eranya Rasulullah, sebab waktu dan tempatnya sudah berbeda. Hanya saja esensi dan subtansinya bisa kita ambil dan terapkan. Meski banyak undang-undang dan peraturan negara kita yang sudah sama dengan apa yang ada pada zaman Rasulullah SAW.

Intinya, dari poin-poin yang saya garis bawahi, bahwa negara kita tidak akan maju jika dalam penindakannya tidak sesuai dengan amanat dan undang-undangnya. Semoga tidak ada lagi rakyat yang berkeluh kesah lantaran efek dari kebijakan dan sikap pemerintah. Kalau ada rakyat yang mengeluh karena tida syukurnya atas apa yang diperolehnya, jarke wae. Semoga pemerintah tidak lagi tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Semoga sikap dan tindak pemerintah tegas sama rata. Dan semoga APBN, uangnya jelas halalnya, jelas baiknya dan jelas alokasinya.

Semoga Indonesia Bisa! Menjadikan negara Indonesia sebagai negara yang thoyyibatun dan rabbun ghofur. Bismillah, Indonesia Maju.

—

Kudus, 2010

Tulisan ini pernah dimuat di Mading Et Tasywiq Madrasah NU TBS Kudus (2010)

PEMERINTAHAN ALA RASULULLAH, INDONESIA MAJU (BAGIAN 3)

—

Antara asing dan yang tidak baik (haram) itu menjadi sumber terciptanya mental-mental anak bangsa menjadi tidak baik dan merusak. Sementara anugerah yang diberikan Tuhan pada bangsa Indonesia amatlah banyak dan berlimpah. Jadi kalau persoalan pada ekonomi negara khawatir pada zona resesi dan kehancuran, wong sumber daya alam kita amatlah berlimpah. Untuk memulai revolusi demikian, patutlah edukasi mengenai mentalitas kemandirian anak bangsa disebarluaskan, meski untuk sementara kita lapar tidak apa-apa, asal anak cucu kita tidak kelaparan. Jadi yang perlu dibangun ialah sistem, nilai, mentalitasnya dan hukumnya.

Dari hal itu, alangkah baiknya pemerintah belajar pada sistem dan nilai yang sudah Rasulullah SAW terapkan pada zamannya, yang menjadikan trigger kemajuan suatu masyarakat. Bahkan tidak hanya pada masa Beliau saja, kemajuan tercipta, dalam kurun waktu yang lama paska Beliau wafat, tatanan sosial masyarakat terbangun baik dan maju bangsanya. Toh, era Rasulullah SAW, Beliau memakai demokrasi dalam tatanan masyarakatnya. Lalu apa yang membedakan era Rasulullah dengan pemerintah kita?

Pertama, di era Rasulullah SAW, Beliau mengutamakan rakyat. Bahkan saban hari Beliau keliling, mengecek apakah ada rakyatnya yang belum makan. Kalau ada, Beliau dermakan sebagian hartanya agar tidak ada yang kelaparan. Sedangkan Pemerintah kita tidak benar-benar serius dalam mengutamakan rakyatnya. Boro-boro mengutamakan rakyat, bahkan yang mestinya menjadi hak rakyat, oleh oknum-oknum pemerintahan, ditilep begitu saja. Tidak satu dua saja lo, oknum-oknum tersebut yang terciduk KPK.

Kedua, Rasulullah SAW menolak masuknya investor asing untuk membangun Madinah. Beliau lebih mengutamakan sumber daya manusia dan potensi alamnya terlebih dahulu ketimbang mempersilahkan asing untuk menginjak-injak madinah. Sedangkan pemerintah kita, pintunya sangat terbuka dan lebar untuk investor asing. Malah kadang dimonggo-pinarakkan oleh oknum-oknum untuk leluasa menginjak-injak bumi pertiwi.

Ketiga, Rasulullah SAW tidak mengijinkan adanya tempat hiburan, melegalkan prostitusi dan hal-hal maksiat lainnya. Boro-boro mengijinkan, Beliau secara tegas melarang hal demikian. Sedangkan pemerintah kita, belum tegas betul pada hal demikian, sebagaimana yang saya tulis sebelumnya.

Keempat, Rasulullah SAW selalu adil dalam memberikan keputusan, bahkan dalam suatu hadits menceritakan kalau sampai putrinya yang bernama Fathimatuz Zahra mencuri, Beliau sendiri yang bakal memotong tangan putrinya. Sedangkan pemerintah kita masih tidak mampu adil dalam memberikan keputusan. Sampai-sampai ada streotipe ‘tajam ke bawah, tumpul ke atas’.

—

Kudus, 2010

Tulisan ini pernah dimuat di Mading Et Tasywiq Madrasah NU TBS Kudus (2010)

PEMERINTAHAN ALA RASULULLAH, INDONESIA MAJU (BAGIAN 2)

—

Meski banyak masyarakat Indonesia bersholawat, rajin mengerjakan sembahyang, serta banyaknya tempat ibadah yang dibangun, tidak serta merta menolong bangsa Indonesia untuk satset menuju kemajuan sebagaimana bangsa yang dibangun Rasulullah dan para penerusnya. Apakah hal demikian ada indikasi tercampurnya yang tidak baik pada hal-hal yang baik? WaAllahu ‘alam. Namun jika kita mau berendah hati dan intropeksi diri, bisasaja benar demikian. Lantaran APBN, yang kemudian salah satu fungsinya membangun negara dan rakyatnya, tidak 100% bersumber dari yang halal dan baik.

Banyaknya wanita yang menjual dirinya, baik yang di jalanan, di lokalisasi, di online serta dimana-mana, bahkan ada yang terselubung berkedok-kedok, itu ada lantaran adanya ijin tempat hiburan. Dari ijin hiburan secara tidak langsung memberi ijin jual diri. Dari ijin hiburan secara tidak langsung menjadi ijin pada perselingkuhan. Dari ijin hiburan menjadikan kemanfaatan uang, yang mestinya bisa lebih bermanfaat jika tidak digunakan untuk memasuki ruang hiburan, hilang. Adanya ijin hiburan itu secara tidak langsung melegalkan banyak wanita—sebab rata-rata tempat hiburan hanya menyediakan etalase wanita, pria tentunya tidak laku— yang mestinya bermartabat, akhirnya buyar.

Selain ijin tempat hiburan, beredarnya minuman beralkohol—baik yang bercukai maupun tidak— yang tidak sesegera disikat oleh pemerintah kita, membuat bangsa kita tidak lagi memiliki kesadaran mendalam. Akhirnya menjadikan anak-anak bangsa kita gampang ngefly, gampang mabok—parahnya lagi kalau ada yang mabok agama. Konon ada kisah seorang yang memperkosa dan membunuh lantaran pengaruh alkohol. Bahkan ada seorang wali yang gugur kewaliannya lantaran dia menolak zina, menolak membunuh, akan tetapi mau minum alkohol. Hasilnya dia mabok lalu memperkosa dan membunuh saksi yang melihatnya berzina. Maka digugurkan kewaliannya oleh Allah SWT.

Dari ijin tempat hiburan dan beredarnya miras saja, membuat mental manusia yang sudah terlanjur tercebur kesana, susah keluarnya. Hukum sosial mereka terima, namun sebenarnya hukum sosial hanyalah efek dari sikap pemerintah yang tidak tegas pada hal demikian. Stop ijin-ijinnya, musnahkan barang-barangnya dan selamatkan manusianya. Lalu, ketatkan aturan mengenai hal demikian, jika pun masih ada tinggal jerat hukum saja. Secara perlahan pastinya mereka akan mencari solusi-solusi lain atas hidupnya. Jangan sampai ada ormas yang sweeping-sweeping atas nama bela agama lagi lantaran ketidaktegasan pemerintah atas hal tersebut.

Namun jangan asal membuang jala dan ikan tanpa mengganti jala dan ikannya. Kalau perlu pemerintah memberikan empangnya juga, agar tak ada anak-anak bangsa yang terjerumus kepada hal demikian. Karena tidak sedikit dari mereka, khususnya wanita yang menjual dirinya karena kekurangan ekonominya, lalu sudah terlanjur disana, tanpa ada yang menolong bahkan mereka sudah terlanjur branded sebagai pel*c*r, sehingga mereka enggan mentas. Wong sudah terlanjur enak begitu secara ekonomi, wong sudah terlanjur dicap jelek oleh sosial, mau bagaimana lagi. Disinilah perlu andil tegas dari pemerintah yang dalam undang-undang mengamanatkan demikian.

—

Kudus, 2010

Tulisan ini pernah dimuat di Mading Et Tasywiq Madrasah NU TBS Kudus (2010)

PEMERINTAHAN ALA RASULULLAH, INDONESIA MAJU (BAGIAN 1)

—

Banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan oleh pemerintah kita, sebab negeri ini (kembali) dijajah bangsa asing—dengan modus investasi. Padahal semestinya negeri kita sudah merdeka setengah abad lebih, namun kenyataannya, ketergantungan pemerintah kita pada asing menjadikan anak-anak bangsa yang sedang merintis usaha, industri dan teknologinya kalah saing (bisa dikata disingkirkan) oleh investor asing.

Buat apa pemerintah membangun UMKM-UMKM kalau masih merestui investasi dan ijin usaha untuk asing berlangsung. Tentunya UMKM tak akan mampu mengejar langkahnya usaha dan industri besar. Ibarat lomba lari, UMKM seperti sepeda kayuh dan industri besar itu seperti mobil sport dengan cc yang besar. Tentu saja UMKM kalah, rakyat kalah dan investasi dan industri besar lah yang menang.

Lalu siapa yang diuntungkan kalau begitu, rakyat atau asing? Tentu kita bisa tahu jawabannya kan. Rakyat akan menang apabila rakyat tidak diberi sepeda kayuh saja, namun langsung diberi mobil sport dengan cc yang besar. Asalkan rakyat yang diberi itu tahu terimakasih kepada bangsa dan negaranya dengan memberikan prosentase dan pajak yang (kalau bisa) lebih ketimbang asing memberikannya.

Selain investasi, maraknya pajak dan upeti yang bersumber dari hal-hal yang dilarang oleh agama Islam seperti tempat prostitusi (baik yang berkedok maupun yang vulgar), diskotik, tempat karaoke dan miras serta lain-lain. Dan dari sumber-sumber tersebut menjadikan uang negara tidak berkah lagi, serta demikian menjangkiti mental anak-anak bangsa untuk memajukan Indonesia. Percaya atau tidak, sumber yang tidak baik tentunya akan mempengaruhi aliran hingga muaranya.

—

Kudus, 2010

Tulisan ini pernah dimuat di Mading Et Tasywiq Madrasah NU TBS Kudus (2010)

PANTASKAH GUS DUR MENJADI SEORANG PAHLAWAN?

—

KH. Abdurrahman Wahid, mungkinkah Beliau pantas menerima gelar pahlawan yang harus dinobatkan Presiden? Sebuah pertanyaan yang mesti kita breakdown secara mendetail. Mantan Presiden yang akrab kita panggil ‘Gus Dur’ pantas menerima gelar pahlawan yang harus dinobatkan Presiden dengan alasan sebagaimana berikut:

Pertama, tentunya lantaran Beliau seorang Presiden Indonesia yang lahir dari semangat reformasi, meski reformasi belum tuntas.  Keterpilihan Gus Dur sebagai Presiden merupakan pilihan tengah antara sisi abangan yang menawarkan Megawati dan sisi ijoan yang menawarkan Amien Rais. Gus Dur adalah pilihan tepat anggota parlemen untuk meredam konflik kepentingan antara abangan dan ijoan yang berebut kuasa atas nama bangsa dan negara.

Alasan kedua, Gus Dur merupakan negarawan yang rela, legowo dan ikhlas untuk keutuhan negara dan bangsa. Hal tersebut bisa kita lihat bagaimana beliau rela, legowo dan ikhlas lengser keprabon demi menghindari pertumpahan antar anak bangsa. Meski pelengseran keprabon Beliau dipenuhi intrik politik dan kedzaliman beberapa tokoh yang berhasrat menjadi Presiden Indonesia. Ini sebuah nilai yang jarang dimiliki seorang tokoh politik era kini.

Selanjutnya, alasan yang mendasar untuk menjadikan Gus Dur seorang pahlawan ialah Beliau merupakan sedikit dari banyaknya manusia yang mampu diterima oleh ragamnya umat beragama, masyarakat suku dan manusia adat di Indonesia. Sebagai manusia yang lahir dari rahim pesantren, tentu Beliau sangat diterima oleh umat Islam, bahkan kehadiran Beliau di tengah-tengah kita menjadi hal yang kita dambakan. Sementara mengenai penerimaan Beliau oleh komunitas, suku, agama dan adat lain, bisa kita lihat bagaimana Beliau memberi penghargaan resminya sebuah agama yang bernama Konghucu, dan Tahun Baru Imlek sebagai libur nasional Indonesia. Tentunya masih banyak lagi yang dilaku Gus Dur dalam menjadi manusia yang mampu menembus batas dan sekat antar umat beragama, masyarakat suku, manusia ada dan beragam komunitas yang ada di Indonesia.

Kemudian, alasan keempat yang menjadikan Gus Dur pantas menjadi seorang Pahlawan ialah Beliau merupakan Bapak Demokrasi Indonesia. Hal itu menjadi identitas manusia bernama Gus Dur tidak sejak menjadi Presiden, jauh hari saat Beliau masih menjadi aktifis, kritik-kritik kepada pemerintah Soeharto, yang jarang orang berani melakukannya, dilakukan oleh Gus Dur. Lalu, ketika Gus Dur menjadi ketua umum PBNU, NU menjadi suatu kekuatan kontrol politik pemerintahan Soeharto. Demokrasi yang beliau perjuangkan melahirkan reformasi yang melengserkan Soeharto dari kekuasaannya selama puluhan tahun.

Paska reformasi, Beliau yang menjadi Presiden tidak pernah membungkam siapapun, termasuk orang, komunitas dan organisasi yang setelah eranya Gus Dur, banyak dibungkam, ditumbangkan dengan alasan radikal, intoleran dan anti negara. Di era kepresidenan Gus Dur, semua golongan dipersilahkan bersuara, diperkenankan berkembang dan diperbolehkan beraktifitas. Baik itu yang ekstrim, yang liberal, yang katanya porno dan yang yang lainnya. Keran suara dibuka Gus Dur tanpa pernah dimatikannya.

Alasan kelima, tentunya banyak sekali jasa Beliau untuk Bangsa Indonesia yang mengharuskan Beliau dinobatkan sebagai seorang pahlawan. Selain jasa-jasa di atas, masih banyak lagi jasa Beliau untuk Bangsa Indonesia, baik skala nasional maupun internasional. Dalam pencapaian jasa internasionalnya ialah sebagai pendiri Shimon Perez Centre For Peace di Israel, Presiden World Conference on Religion and Peace (WCRP) di New York, Presiden International Islamic Christian Organization for Reconciliation and Reconstruction di London, Presiden Non Violence Peace Movement di Seoul dan masih banyak lagi yang diperbuat Gus Dur untuk mengharumkan Indonesia di kancah internasional.

Begitulah, beberapa alasan yang bisa saya kemukakan untuk menjadikan Gus Dur sebagai seorang pahlawan, jika pun alasan untuk menjadikan Beliau seorang pahlawan dibutuhkan. Meski ada segelintir manusia yang tidak setuju atas laku Gus Dur, namanya juga tokoh besar, sebagaimana pohon, semakin tinggi sebuah pohon, semakin kencang pula angina yang menerpanya.

Semoga sesegera mungkin Presiden menandatangani Keppres tentang kepahlawanan Gus Dur. Sebab tidak sedikit masyarakat Indonesia menantikan hal itu. Meski Gus Dur tidak dinobatkan sebagai seorang Pahlawan, kita masih bisa memakai apa yang dikatakan KH. Mustofa Bisri. Kiai yang akrab disapa Gus Mus pernah berkata, bila Gus Dur tidak ditetapkan sebagai pahlawan, toh Gus Dur sudah menjadi pahlawan selama ini bagi warga Nahdliyin dan Indonesia.

—

Kudus, 2010

Tulisan ini pernah dimuat di Mading Et Tasywiq Madrasah NU TBS Kudus (2010)

KALAM CINTA

daun ini takkan layu

meski ranting telah patah

dari pohonnya


ranting ini takkan pernah patah

meski batang telah tumbang

dari tanahnya


batang ini tak akan tumbang

meski akar telah rapuh

dari dalamnya

Jagalan 62, Rabi'ul Awwal 1432


Puisi ini dimuat di Buletin el Insyaer Madrasah TBS Kudus edisi 44

MEMORI KELABU

tercantum namamu

namaNya, dalam benak

sanubari


kelam namamu

tenggelamkan diri

suci, dari pandangan dusta


bertumpuk dusta kepada Tuhan

bertumpuk khianat kepada agama

oleh raga, jadikan senang

dalam duka


engkau telah benamkan cinta

kepada Tuhan, prestasi

yang ada, kepribadian

yang suci ini


mencoba perlahan lupa

akan memori kelabu

namun terpatri, semuanya

dalam luka yang ngilu


terus mencoba hilangkan,

lupakan dan hapuskan semua

memori kelabu, terlanjur

tersimpan dalam

Gubuk Jetak, 2009


Puisi ini dimuat di Buletin el Insyaer Madrasah TBS Kudus edisi 42

IBU JARI TAK BERTULANG

Ilustrasi: Abdurrahman Jtk
—

Saya masih setia menguntit, mengintai, menelisik, menelusuri, bahkan bisa dikatakan kepo terhadap pria tersebut. Siapa gerangan, yang sebegitu ringan memberikan, membagi-bagi uang yang kalau dalam hitungan saya teramat banyak. Sebab banyak, sedikit itu relatif tergantung seberapa kepemilikanmu dan kepenerimaanmu. Sementara kepemilikanku amat sedikit, meski penerimaanku tidak sedikit-sedikit amat. Saya hanya seorang penulis, aku mah apa atuh, yang upahnya tidak tentu, tergantung event dan pesanan—kalau kalian mau pesen tulisan, silakan wapri 081336453939 dengan #pesantulisan. Apalagi kalau ahad ini saya tidak jumpai nama saya di satu Koran pun, tentu hancur hati saya.

Tapi lebih hancur lagi kalau kau acuhkan aku, kau diamkan aku, kau tinggalkan aku[1]. Kau, iya, kau. Jadi untuk sedekah, tentu teramat berat, bahkan bisa dikatakan akan menggunakan pasal-pasal negeri Inidinesia untuk menguatkan perlakuan saya. Wajar lah, saya kan penulis, punya seribu buku, seribu kamus—meski lebih punya Google dalam soal pengetahuan— untuk membenar-benarkan wacana dan ide saya. Meski demikian, saya selalu berusaha untuk memiliki penerimaan yang lebih dari sekedar pemilikan.

Kini, saya sudah di utara pasar, terseret arus pria itu. Saya belum mendapatkan informasi apapun kecuali dia kumuh dan memiliki kantong ajaib. Sebenarnya dalam hati berharap pria itu menjumpaiku dan memberi selembar atau beberapa lembar yang marhaenis, ada Bung Karno dan Bung Hatta. Tentu akan membara nasionalisme saya, akan berkibar patriorisme saya. Namun sepertinya pria itu tidak menghendaki demikian.

Seringkali saya mengantar Ibu ke pasar, namun baru pertama ini saya menjumpai pria itu. Kini, Ia masuk ke warung Pak Kar yang terkenal menu sop ayamnya. Saya pun ikut masuk ke warung itu, berharap dapat informasi mengenainya lagi.

Ia memesan sop ayam dan es teh, saya pun ikut memesan, meski hanya kopi yang kupesan. Barang siapa ngopi, kesepiannya akan lekas diampuni, dan mereka yang telah ngopi, bakal rentan diserang sepi[2].

Sesampainya kopi di hadapanku, tiba-tiba smartphoneku berdering, suatu nada khusus kalau dia yang bukan pria itu mengirim whats’app. “Mas….” Begitu pesannya. Betapa bersyukurnya saya mendapatkan pesan darinya, yang lama meninggalkanku demi ah syudahlah. Kubalas seadanya, demi menjaga patpap[3] yang harus tetap dijaga. Kutanyai juga kabarnya, keluarganya, bapak ibunya dan keluarga lainnya yang kukenali.

Belum sempat ia membalas beberapa pertanyaanku, Kang Dul mengagetkanku dengan cara mencablek[4] pundakku dari belakang sembari berujar: Kang. Kesepian saya benar-benar hilang dan musnah. Sepi sebab memperhatikan pria yang sedari di depan Klenteng menghilangkan keramaian pasar, keramaian sekeliling dan keramaianku.

Kebetulan ada Kang Dul, mungkin saya bisa mempraktikkan ilmu pria itu dengan cara mentraktirnya. Selain itu, sebagai wujud syukur yang tiada tara atas kehadirannya yang ghaib secara tiba-tiba via whats’app. Semau apapun Kang Dul makan dan minum akan saya bayar. Seperti rindu, dendam harus dibayar tuntas[5]. Sesekali berusaha mengkayakan diri dengan cara memberi, siapa tahu Allah terharu dan benar-benar membuat saya kaya. Infaqkanlah dari apa yang menjadi rizki kalian sebelum datang suatu ketika hari yang tidak lagi ada perdagangan dan tidak ada persahabatan dan tiada lagi pertolongan[6].

Saya kembali memperhatikan pria itu, ia telah selesai makan dan minum. Saya terkejut, sebab Ia pergi begitu saya tanpa membayar makanan dan minuman yang telah dilahapnya. Melihat demikian, saya bergegas menyusulnya.

“Assalamualaikum Pak, saya Arafat.” Saya memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan kepadanya. Kemudian disambut dengan tangannya. Beruntunglah saya sempat bersalaman dengannya. Namun saya merinding merasakan tangannya, bagian ibu jarinya terasa lembek, tak bertulang. Saya tercengang merasakan demikian, hati saya berdegup kencang. Merinding sekaligus berkucur keringat di leher bagian belakang.

—

Kamis Legi, 1 Dzulhijjah 1438/ 24 Agustus 2017

[1]

Penggalan lirik lagu ‘Lumpuhkanlah Ingatanku’ karya Geisha Band.

[2]

Penggalan puisi ‘Surah 2’ karya Usman Arrumy.

[3]

Sesuai tempat, waktu dan momentumnya. Kata ini lebih berhubungan dengan marwah, kehormatan dan juga moralitas.

[4]

Cablek merupakan gerakan tangan dengan mode menabok namun dengan kekuatan yang kecil.

[5]

Judul buku karya Eka Kurniawan.

[6]

Surat Al Baqarah ayat 254:

يايهاالذين امنوا انفقوا ممارزقنكم من قبل ان يأتي يوم لابيع فيه ولاخلة ولاشفاعة قلي والكفرون هم الظلمون.