![]() |
| Ilustrasi: Abdurrahman Jtk |
—
Seruput, dua-ruput, Kang Dul meminum teh
angetnya, sementara saya masih dibingungkan oleh jawabannya.“Dari rahim ibu” memiliki banyak
kemungkinan tafsir. Pertama, rahim yang ia maksudkan rahim berupa vagina atau
rahim dari kosakata bahasa arab, berarti kasih sayang, yang kalau dijawakan
menjadi welas asih ing dalem akhirat bloko, sebagaimana merujuk dengan pemahaman
Allah yang Rahman dan yang Rahim.[1] Kedua, ibu yang ia maksudkan itu ibu kandungnya, ibu dari anak-anaknya,
atau ibu kota yang konon lebih jahat ketimbang ibu tiri.
Sayangnya, terkadang saya tidak memiliki kemampuan untuk bertanya pada Kang Dul. Takut-takut nanti saya dibuat kebingungan lagi
dengan jawabannya, sehingga kemungkinan-kemungkinan itu hanya menguap dalam
kepala. Meski
begitu saya tetap bersyukur, mendapatkan beberapa kunci dari Kang Dul. Tinggal menunggu dipertemukan atau mencari untuk
menemukan pintunya.
Kang Dul kemudian mengambil rokok, menyalakan api, sebagaimana bunyi kretek yang tak sempat diucapkan rokok kepada api
yang menjadikannya tekhek[2]. Bukan “dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.”[3]
“Kang, sampeyan sudah tahu belum kalau Pak Kaji Jamal tadi siang
meninggal.” tutur
Kang Dul pasca letupan asap rokok hisapan pertama. Saya kaget, lantaran di hari
raya kemarin saat silaturrahim ke kediamannya,
beliau sehat-sehat saja.
“Lo, meninggal kenapa, Kang?”
“Orang meninggal itu sebab ketentuan dan jangka waktu untuk hidup sudah habis.”
Kalau jawabannya semacam itu, setiap muslim, bahkan setiap manusia, pasti tahu dan menyadarinya. Bahwa
hidup di dunia tidak abadi, sebagaimana hidup di alam rahim. Masih ada alam-alam
lain setelah alam dunia—baru
jarak dekat, masih ada jarak panjang. Maka tarik napas panjang, agar tak kehabisan napas dalam rakaat-rakaat panjang
berikutnya.
—
Senin Wage, 14 Dzulqo’dah 1438/ 7 Agustus 2017
-
[1]
Ayat Al Qur’an surat Al Fatihah: 1.
بسم الله الرحمن الرحيم.
[2]
Tekhek: bahasa lokal jawa dari abu rokok.
[3]
Penggalan
puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono.
0 tanggapan:
Posting Komentar