![]() |
| Ilustrasi: Abdurrahman Jtk |
—
Gerhana bukan sekadar tanda
bahwa dunia sedang diselimuti kegelapan. Kegelapan itu bisa berupa kedzaliman,
fitnah, makar, ketidakadilan, intoleran, korupsi, perampokan, zina,
kesemena-menaan, angkuh, sombong, juga tak tahu diri. Kalau kita mengambil hikmah gerhana hanya dari
sebab keadaan gelap, sehingga kita menciptakan citra-istighfar, istighfar-citra. Memakai peci sembari menampilkan wajah
sesendu mungkin, bertasbih di depan awak media, serta mengisak-isak tangisnya,
itu sudah terlalu mainstream.
Kalau kita hanya mengambil
hikmah dari gerhana, sebab telah terjadi gelap lalu ramai-ramai mencari sumber
penciptaan cahaya, agar ia tidak kegelapan, itu sudah lazim. Jika tidak sanggup
menemukan sejatinya sumber cahaya, maka itu akan menjadi cahaya yang semu.
Tidak kekal dan hanya akan menjadi cahaya material saja.
Mestinya kita pandang gerhana
sebagai momentum perenungan dan permenungan kita untuk menyadari, mengakui, dan
meminta maaf untuk tidak mengulangi segala sesuatu yang ketika ada cahaya kita
meredupkannya. Gerhana
sebagai momentum untuk mengevaluasi segala hal dari dalam diri kita yang masih gelap. Gerhana sebagai jeda, dari
berjalannya cahaya yang tiada henti dianugerahkan kepada kita. Agar kita bisa mikir. Mbok mikir.
Begitulah kultum dadakan kang
Dul setelah tawanya terlepas dari mulut. Saya mendengarkannya secara khusyuk
meski tangan saya meraba, mengambil nasi kucing dan gorengan di depan saya, sembari mata sedikit
melirik ke tempat nasi kucing. Yang
diambil oleh tangan bukanlah nasi kucing yang bungkusnya sebagai pemersatu dari
multikulturalnya rasa nasi kucing. Namun nasi kucing yang sudah jelas
identitasnya tertulis “teri lombok
ijo”, “ayam gongso”, “kerang”, “sambel goreng
ati”, meski bungkusnya hampir sama. Serta gorengan
yang diambil tangan, bukan gorengan yang memiliki nasionalisme pada nasi
kucing, tapi nasionalisme pada cita rasanya sendiri.
Nasi kucing ya nasi kucing,
gorengan ya gorengan. Tidak
seperti artikel tetangga sebelah yang sok paham nasi kucing dan gorengan.
“Nasi kucingmu apa?” tanya kang
Dul
“Teri.”
“Teri sambel apa teri lombok ijo?”
“Teri sambel.”
“Sambelnya, sambel trasi,
sambel bawang apa sambel kosek?”
“Sak uni-unine lambemu,
kang.”
“Dan hanya Allah yang tahu sementara kalian
tidak mengetahuinya.”[1]
balas kang Dul sembari wajahnya berkeliling menatap Boneng, lek Teguh dan
beberapa pelanggan kedai kopi lainnya.
—
Rabu Legi, 16 Dzulqo’dah 1438/ 9 Agustus 2017
-
[1]
Ayat Al Qur’an surat Al Baqarah: 216.
كتب عايكم القتال وهوكره لكم ج وعسى
ان تكرهوا شيئا وهو خيرلكم ج وعسى
ان تحبواشيئا وهوشرلكم قلى والله
يعلم وانتم لاتعلمون.
0 tanggapan:
Posting Komentar