![]() |
| Ilustrasi: Abdurrahman Jtk |
—
“Lah kok sak unine lambeku
Kang?” Lanjut Kang Dul seusai terdiam cukup lama.
Kang Dul pun ikut mengambil nasi
kucing dan gorengan yang tersedia di gerobak kedai. Membukanya, memakannya
perlahan-lahan. Barangkali ia takut cepat habis. Sebab nasi kucing porsinya
hanya sekepalan tangan para pendemo aksi bela-belaan—asalkan tidak bela mantan
ya, karena mantan rasanya seperti jangan nget-ngetan. Lebih baik bela
jomblowan yang tak menemukan dambaannya.
Mungkin saja, Kang Dul mengikuti
sunnah rasul, yakni sesuapan dikunyah sampai tiga puluh tiga kunyahan. Tapi ini
mungkin saja lo. Sebagai prasangka kita kepada selain kita dengan yang
baik-baik saja. WaAllahu wa Kang Dul ‘alam.
“Maksudku begini lo kang. Aku hanya
ingin mengidentifikasi identitas per nasi kucing tersebut serta pelanggannya
saja. Lantaran para pelanggan pastinya akan mencari rasa yang disukainya.
Kecuali dia termasuk dalam golongan manusia nasi kucing kaffah.” Lanjut
Kang Dul sembari mengunyah nasi kucing suapan keduanya.
Lantaran pula, saya terdiam tidak
menjawab pertanyaannya barusan. Maklum masih jengkel dengan pertanyaan Kang Dul
yang mengingatkan peristiwa menyakitkan orang kecelakaan yang teramat banyak
wawancara dari penolongnya. Saya hanya mendengarkan secara seksama, namun tidak
dalam tempo sesingkat-singkatnya. Bukan pula Soekarno Hatta, 17 Agustus 1945.
Tapi Kang Dul-Saya, 10 Agustus 2017.
“Aku kan makan nasi kucing yang
isinya gongso babat. Sementara kamu makan nasi ‘teri sambel’. Yang aku takutkan
itu, kalau sebab perbedaan pilihan rasa, membuat kamu tidak lagi mencintai,
mengasihi bahkan memanusiakanku lagi.” Lanjutnya setelah ia mengunyah nasinya
yang berhenti pada tiga puluh tujuh kunyahan, dalam hitungan saya. Sungguh
sangatlah nganggur saya, sampai-sampai kunyahan Kang Dul saya hitung.
“Sebab akhir-akhir ini, banyak
manusia yang tidak lagi manusia. Lantaran ia tak sanggup memanusiakan manusia.”
Lanjut Kang Dul lagi.
“Kok bisa tidak lagi manusia Kang?
Padahal ia masih makan nasi kucing.” Saya terpaksa memotong pembicaraannya
lantaran menarik sekali apa yang disampaikan Kang Dul. Sebab pula, kalau tidak
lekas-lekas saya potong, ngelu akan semakin menumpuk pada kepala saya.
Karena, setiap apa yang disampaikan Kang Dul, memiliki banyak pemaknaan. Jadi
kalau sampai panjang ia bertutur, semakin menumpuk tanda tanyanya. Kalau yang
panjang itu anu-mu, bisa engkau kawinkan dalam tempo jang
sesingkat-singkatnja.
“Begini lo Kang. Coba ingat
pelanggan yang njajan tadi. Ingat wajahnya. Apa wajahnya tampak gembira
lantaran pelanggan sebelahnya beda identitas nasi kucingnya?” Jawab Kang Dul.
Saya hanya menganggukkan kepala saja.
“Manusia sebelum memahami
kemanusiaannya, mestinya ia lulus dari kemakhlukannya. Kalau kebencian
pelanggan tadi masih ia pelihara. Itu artinya ia gugur sebagai manusia, harus
mengulang kelas kemakhlukannya. Kebencian itu syarat yang perlu dihindari
makhluk untuk menjadi manusia. Manusia itu bisa memanusiakan manusia.” Sungguh
mak jleb, menusuk hati saya tutur Kang Dul kali ini. Lantaran saya sendiri
masih merawat kebencian kepada orang yang telah membawa lari kecintaan dan
kebanggaan saya.
[1]
Surat Al Isra’
ayat 70:
ولقد كرمنا بنى ادم وحملنهم فى البر والبحر ورزقنهم من الطيبت وفضلنهم على كثير ممن خلقنا تفضيلا.

0 tanggapan:
Posting Komentar