(HAUL 18 TAHUN BAPAK ABDUL HADI)
—
Bapak bernama Abdul Hadi bin Ngatmono bin Syamsuri bin
Tigumo. Beliau terlahir pada Selasa Kliwon, 24 Rabiul Akhir 1379 yang
bertepatan tanggal 27 Oktober 1959 dengan nama Masyhadi—berganti nama Abdul
Hadi saat menikah. Beliau lahir dari pasangan Ngatmono dan Asminah.
Pengalaman saya dengan Beliau tidak begitu lama, lantaran
pada Kamis Wage, 15 Dzulhijjah 1425 atau 27 Januari 2005, Beliau harus
berpulang keharibaanNya. Meski tidak lama, ada beberapa kenangan yang masih
teringat (semoga selalu), bahwa hidup kita ibarat sebuah perjalanan dan kita
mesti memilih kendaraan yang pas untuk sampai padaNya.
Dalam dunia Islam, perihal jalan memiliki banyak lafadh yang
memiliki arti jalan. Ada syari’, ada thariq, ada sabil dan ada shirot. Keempat
kata itu pastinya bukan suatu yang asing bagi seorang muslim. Meski keempat
kata itu memiliki arti jalan, namun setiap kata memiliki perbedaan
yang mendetail. Dan keempat jalan tersebut saya yakin sudah ditempuh oleh Bapak
dengan baik. Bahkan cara bepulangnya Bapak dilalui di jalan, sebuah perempatan di
wilayah Kediri.
Mengenai jalan dan Bapak, ada beberapa kenangan yang masih
membekas sampai saat ini. Dahulu ketika saya masih balita, saya pernah diajak
motoran ke Babalan. Ke Babalan entah dalam rangka apa, saya lupa. Waktu itu
Bapak dan Mae mengajak saya ke Babalan. Desa Babalan terbilang dekat kalau saat
ini, namun terbilang jauh waktu itu, lantaran zaman dahulu jalannya tanah dan
lumpur. Maklumlah zamannya Pak Harto, jalan yang bagus hanya sekitaran Senayan,
Cendana dan area kepresidenan.
Ketika pulang dari Babalan, kami harus melewati
tambak-tambak dan kondisi saat itu sehabis turun hujan. Bahkan tanpa turun hujan pun, kalau ada gelombang pasang naik, bisa terjadi banjir. Pada perjalanan pulang
itu kami jatuh di jalanan tambak, karena roda ban meleset dari jalan tambak
yang amat sempit dan blenyek. Untungnya Bapak, Mae dan saya tidak
kenapa-kenapa, hanya baju kami yang kotor pakai banget, lantaran kami tersungkur ke area
tambak.
Dari hal tersebut, Bapak mengajari saya bahwa meski sudah
memiliki kendaraan (anggap saja lembaga thoriqoh), siapa saja bisa terjungkal dan jatuh
dari thoriq/jalan tersebut. Apalagi kalau melewati jalan yang blenyek dan
sempit. Kedua, kalau pengemudi (anggap saja mursyid) jatuh, dimungkinkan para
penumpang (anggap saja jamaah) pasti jatuh juga. Maka berhati-hatilah mencari pengemudi dan
kendaraan, bagi yang belum mendapat pengemudi atau belum menjadi pengemudi dan atau hanya menjadi penumpang saja. Agar tidak mengalami hal yang kami alami. Pilihlah pengemudi yang sudah terlisensi dan kendaraan yang sudah standar.
Ketiga, sebagai pengemudi, Bapak langsung sigap
menyelamatkan saya dan Mae, sebagai penumpangnya. Beliau tidak memikirkan
kondisinya terlebih dahulu, apalagi kendaraannya. Memang begitulah harusnya sikap pengemudi,
apabila kendaraannya jatuh, apalagi dijatuhkan, pikirkan penumpang terlebih
dahulu. Lantaran penumpang adalah amanat yang diberikan Tuhan kepada pengemudi.
Akan tetapi apabila ada penumpang yang diselamatkan tidak mau, mau bagaimanapun
pengemudi harus terus memacu kendaraannya agar sampai tujuan. Untunglah Mae dan
saya berkenan diselamatkan.
Sampai akhirnya, kami selamat hingga tujuan, yakni kediaman,
meski baju kotor—apalah arti sebuah baju kotor, kalau masih ada deterjen yang
siap membersihkannya. Dan begitulah satu kenangan yang saya alami bersama Bapak
di jalan.
Hari ini, 15 Dzulhijjah 1443, genap delapan belas tahun Bapak menghadap haribaanNya. Semoga apa yang beliau tinggalkan sepanjang jalan menujuNya menjadi jariyah bagi Beliau. Semoga petilasan-petilasan nya senantiasa dijaga anak cucunya. Alfatihah...

0 tanggapan:
Posting Komentar