ISTRI-ISTRI KH. CHOLIEL IDRIES

—

Mukaddimah:

Memiliki banyak istri memiliki resiko tersendiri. Namun Allah tidak menganjurkan seseorang menikah lantaran memenuhi dahaga syahwatnya saja. Allah menyuruh hambanya menikah sebagai jalan untuk ibadah, meminimalisir dosa dan berjuang menghidupkan agamaNya, hingga akhirnya menemukanNya.

Terkadang seseorang menikah hanya sekali dan bertahan selamanya. Terkadang menikah kemudian kandas ditengah jalan. Ada yang menikahi lebih dari satu wanita. Ada yang menikah, cerai, menikah, cerai, menikah. Banyak hal yang harus kita pandang, bahwa menikah (kembali kepada awal tadi) tidak sekadar memenuhi dahaga syahwat semata.

Hal itu sebagaimana yang perlu kita pandang secara luas dan mendalam mengenai apa yang KH. Choliel Idries lakukan dalam sebuah pernikahan. Tercatat KH. Choliel Idries menikah sebanyak 8 kali dan banyak hal yang perlu kita pelajari secara mendetail mengenai itu. Namun hal itu perlu kita buka dalam tulisan lainnya. Untuk sementara, saya suguhkan ringkasan singkat mengenai istri-istri KH. Choliel Idries.

Istri-Istri KH. Choliel Idries:

1. ? (Babalan, Wedung, Demak)

Mengenai nama istri pertama Beliau masih belum diketahui, namun informasi yang saya dapatkan bahwa sebelum pergi haji, KH. Choliel Idries sudah menikah. Beliau menikah dengan wanita asal Babalan, Wedung, Demak. Namun karena suatu hal, pernikahan dengan istri pertama ini tidak bisa dilanjutkan. Dari pernikahan ini, KH. Choliel Idries tidak melanjutkan keturunan.

2. Ny. Khodijah (Singapura)

Dalam perjalanan haji KH. Choliel Idries, ketika singgah di Singapura, Beliau bersua dengan Nyai Khodijah, hingga akhirnya menikah. Bahkan ketika di Arab Saudi, Nyai Khodijah melahirkan putra bernama Thoyyib. Dari Nyai Khodijah, KH. Choliel Idries diberikan banyak keturunan. Nyai Khodijah menjadi istri Beliau hingga akhir hayatnya. Nyai Khodijah dimakamkan di Jetak, Wedung, Demak (di makam Brangkidul, selatan sungai Wulan).

3. Ny. Suwaidah (Jambu, Mlonggo, Jepara)

Nyai Suwaidah, wanita asal Jambu, Mlonggo, Jepara merupakan istri madu KH. Choliel Idries ketika Beliau sedang berdakwah di daerah Jambu. Nyai Suwaidah meninggal dunia ketika sedang proses persalinan putranya. Baik Nyai Suwaidah maupun putranya harus kembali menghadap Allah dalam proses persalinan tersebut. Hingga akhir hayat Nyai Suwaidah bertempat tinggal di Jambu, Mlonggo, Jepara.

4. Ny. Badriyah (Purwogondo, Kalinyamatan, Jepara)

Usai Nyai Khodijah meninggal dunia, KH. Choliel Idries menemukan pendamping hidup dari desa Purwogondo, Kalinyamatan, Jepara. Wanita itu bernama Nyai Badriyah. Nyai Badriyah sendiri merupakan janda dari paman KH. Choliel Idries, Kiai Thohir. Dari pernikahan ini, Beliau memiliki banyak putra-putri dari Nyai Badriyah, hanya saja yang melanjutkan keturunan dari putri-putrinya saja. Sampai akhir hayat Nyai Badriyah, bertempat tinggal di desa Jetak, Wedung, Demak dan menjadi istri KH. Choliel Idries. Makam Nyai Badriyah di Brangkidul, selatan sungai Wulan, desa Jetak, Wedung, Demak.

5. Ny. Husriah (Purwogondo, Kalinyamatan, Jepara)

Usai Nyai Badriyah meninggal dunia, kemudian KH. Choliel Idries menikah dengan Nyai Husriah. Nyai Husriah sendiri masih satu desa dengan Nyai Badriyah, yakni Purwogondo, Kalinyamatan, Jepara. Namun pernikahan dengan Nyai Husriah harus berakhir pada perceraian. Penyebabnya entah apa, waAllahu 'Alam. Dari pernikahan ini, KH. Choliel Idries tidak diberikan keturunan.

6. Ny. Ngarsinah (Buko, Wedung, Demak)

Kemudian KH. Choliel Idries menikah dengan Nyai Ngarsinah. Nyai Ngarsinah merupakan wanita asal Buko, Wedung, Demak. Dari Nyai Ngarsinah, KH. Choliel Idries tidak diberikan keturunan. Meski begitu, Nyai Ngarsinah menjadi istri KH. Choliel Idries hingga akhir hayatnya. Beliau dimakamkan dalam satu komplek dengan Nyai Khodijah dan Nyai Ngarsinah, makam Brangkidul, Jetak, Wedung, Demak.

7. Nyai Sartipah (Jetak, Wedung, Demak)

Nyai Sartipah merupakan wanita asli Jetak, Wedung, Demak. Nyai Sartipah dinikahi dan dimadu dengan Nyai Ngarsinah lantaran KH. Choliel Idries ingin menanggung kemiskinan yang dialami Nyai Sartipah. Selain persoalan ekonomi, Nyai Sartipah merupakan perawan tua yang belum pernah menikah. Namun, pernikahan dengan Nyai Sartipah harus berakhir dengan perceraian, lantaran ketidakcocokan putra-putri KH. Choliel Idries dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan Nyai Sartipah. Dari Nyai Sartipah, KH. Choliel Idries tidak dikaruniai keturunan.

8. Ny. Siti Fathimah (Demeling, Jepara)

Ketika KH. Choliel Idries sedang berdakwah di daerah Demeling, Beliau bersua dengan janda beranak dua, yakni Nyai Siti Fathimah. Akhirnya Nyai Siti Fathimah dinikahi oleh KH. Choliel Idries. Ketika Nyai Ngarsinah masih hidup, Nyai Siti Fathimah bertempat tinggal di Demeling, menemani KH. Choliel Idries ketika sedang berdakwah disana. Barulah ketika Nyai Ngarsinah wafat, Nyai Siti Fathimah diboyong ke Jetak, Wedung, Demak.

Dari pernikahan dengan Nyai Siti Fathimah, KH. Choliel Idries banyak dikaruniai putra-putri, hanya saja yang melanjutkan keturunan dari putra-putranya saja. Nyai Siti Fathimah merupakan satu-satunya istri yang menjadi saksi kepulangan KH. Choliel Idries. Nyai Siti Fathimah menjadi istri terakhir dari KH. Choliel Idries. Hingga akhir hayat Nyai Siti Fathimah, menemani putra-putrinya dalam meneruskan dakwah dan jejak KH. Choliel Idries. Ketika Nyai Siti Fathimah berpulang, Nyai Siti Fathimah dimakamkan di makam umum desa Jetak, Wedung, Demak, satu komplek dengan makam suaminya, KH. Choliel Idries.

Penutup:

Dari KH. Choliel Idries kita bisa belajar bagaimana persatuan dan kebhinnekaan terjaga. Meski memiliki banyak istri yang tentunya memiliki banyak keturunan pula, kita bisa melihat tidak ada satupun putra-putri KH. Choliel Idries yang tercerai berai. Meski satu putra/i dengan putra/i lainnya memiliki garis ibu yang berbeda, mereka bisa rukun dan tidak saling membeda-bedakan. Bahkan KH. Choliel Idries sampai rela menceraikan seorang istri yang mengganggu kerukunan dan persatuan dalam sebuah keluarga. Bahkan putra/i Nyai Siti Fathimah yang tidak memiliki garis ke KH. Choliel Idries, dianggap anak sendiri (seperti anak kandung) Beliau dan putra-putrinya pun menganggap bahwa putra/i yang dibawa Nyai Siti Fathimah merupakan saudara kandung mereka pula.

Ini suatu hal langka yang tidak kita temukan di era sekarang. Persatuan dan kesatuan menjadi tarikan nafas dalam menjaga persaudaraan. Persaudaraan itu menjadi nyawa untuk meneruskan perjuangan dan peninggalan KH. Choliel Idries. Mengenai putra-putrinya KH. Choliel Idries, kita bahas di post selanjutnya.

0 tanggapan:

Posting Komentar