SEPATU PANTOFEL & SEPATU YANG BASAH

taken by: Sajidah Ulfa

(SERI 6 MENUJU PUNCAK UNGARAN)

—

Di Pos 1, saya kembali dibuat marah. Kali ini yang membuat marah itu Ulfa. “Menengo cocotmu! ” Seru saya, saat Ulfa ngomong: kayaknya menarik kalau uji nyali disini. Barangkali kalau saya tidak marah, pembahasan akan berlanjut ngegosipin mbak kunti, mas cong, mbah gendru, dek yul dan saudara-saudaranya. Masih aman jika hanya sebatas pembahasan dan pergosipan semata. Lah kalau yang diperbincangkan dan dipergosipkan datang, bagaimana nasib Ulfa dan Yusril, eh saya juga nding. Gimana jadinya, gimana? Setelah itu, obrolan kembali membahas hal lain yang sekiranya tidak mengancam dan membahayakan kami.

Waktu terus berjalan, kami pun mesti berjalan menuju Pos 2. Kami gerakan kaki untuk melangkah. Langkah demi langkah kami jalani. Nuansa tetap sama seperti sebelumnya, gelap gulita dan gemericik air terdengar. Medan semakin menanjak namun masih terhibur oleh beberapa jalan landai. Percabangan demi percabangan jalur kami temui, hingga kami menemui percabangan yang membingungkan karena gelapnya hari.

Saya mencari jalur yang lurus, Yusril kuminta melihat plang sebelah kanan yang berjarak 10 meteran. Permintaan saya ternyata membuat Yusril terjeblos ke aliran air pegunungan. Maklum gelap gulita, senter yang dibawanya diarahkan ke plang penunjuk arah. Sepatu Yusril basah, tapi begitulah resiko dari sebuah pendakian. Sepatu basah, bahkan kalau sedang turun hujan, bisa-bisa seluruh tubuh basah. Sepatu basah dan kotor itu hal yang wajar. Yang tidak wajar itu Ulfa, ke pegunungan kok pakai sepatu pantofel.

Akhirnya kami belok kanan, mengikuti jalur yang dipilih Yusril. Kembali ke formasi awal, saya yang di depan. Kali ini, kami temui jalur yang menanjak tajam. Medan kali ini tanjakan tajam, sementara undak-undakannya terbuat dari tanah dan akar yang menyampur. Kami bahu membahu, saling ulurkan tangan agar semuanya selamat sampai tujuan.

Sepanjang menuju Pos 2, kami tercatat sudah tiga kali istirahat. Napas mulai tampak ngos-ngosan semuanya. Meski begitu, kepulan asap rokok tetap menemani tiap hembusan napas saya. Pos 2, kami lewati begitu saja. Perjalanan menuju Pos 3 dengan medan yang semakin berat buat langkah-langkah, khususnya buat para pemula. Pada perjalanan menuju Pos 3, suara adzan terdengar, kami nikmati sebagai pelindung, sebagai wangsit keselamatan. Entah suara adzan itu berasal dari kampung mana. Intinya kami berjalan di tengah hutan Gunung Ungaran.

Terhitung 3 kali pula, kami istirahat antara Pos 2 dan Pos 3. Di Pos 3, kami istirahat, menyandarkan geger, menyelonjorkan kaki, dan mengatur ritme napas kami. Air mineral yang kami bawa menipis. Pikir saya waktu itu, nanti diisi di kolam sehabis Pos 3, sebelum kebun teh. Di Pos 3, kami juga bersepakat untuk mengqodo’ shubuh kami. Maafkan kami Gusti, di tempat itu tak ada air dan kami sedang kelelahan. Kalau meminjam cuitan Gus Mus, “Tuhan, kami sangat sibuk”. Begitulah kenyataan kami yang penuh dosa dan berharap sangat sibuk itu menjadi kesibukan meminta ampunan dariNya dan menemukanNya.

Maafkan kami pula yang tentunya banyak salah dan dosanya. Maafkan saya juga yang terpaksa memotong cerita selanjutnya. Tetap ikuti HBArafat.com dan jangan lupa Subscribe channel youtube kami: HB. Arafat dan Hayya Channel, agar kami tetap bersemangat menyajikan perjalanan dan pengalaman kami ke manteman semua. Sampai jumpa di seri ketujuh. 

—

Semarang, 1 Dzulhijjah 1443

0 tanggapan:

Posting Komentar