AHLU CHAT WA SOSMED

Ilustrasi: Abdurrahman Jtk
—

Kata Om Eko Tunas, merdeka yo turu. Sehingga dalam keadaan semacam ini saya bisa dikatakan belum merdeka. Apalagi matahari sudah beranjak menyinari. Ayam-ayam sudah mulai bersahutan, membangunkan orang-orang yang tengah tidur. Sebentar lagi, adzan berkumandang mengajak orang-orang untuk sholat shubuh. Tentunya hal itu berlangsung di Masjid. Akan tetapi, jamaah shubuh biasanya paling banyak hanya dua shaf saja. Itu pun jarang sekali terjadi.

Belum sempat ngerasani lainnya, adzan sudah mulai terdengar. “Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Suara dari arah tenggara itu membuat mata semakin tidak merdeka dari kemerdekaannya. Lantaran, membuat saya harus beranjak pergi dari kasur menuju masjid.

Sesegera saya pergi ke masjid, bukan lantaran saya senang pergi ke masjid, melainkan ingin membuat hati ibu bahagia. Kalau ibu bahagia, pastinya Allah bahagia. Ini adalah peluang bagi saya untuk naruh proposal-proposal yang kemungkinan besar diijabahiNya.

Dan Kami (Allah dan stafNya) mewakilkan manusia dengan kedua orang tuanya. Ibunya telah merawatnya dalam keadaan lemah yang melemahkan, dan menyapih dalam usia dua tahun. Sungguh berterimakasihlah kepadaKu juga kepada orang tuamu. KepadaKu lah takdir[1].

Selain itu, kalau saya ke masjid ikut jamaah, saya bisa njagong dengan tetangga sehabis sholat. Itu pun kalau banyak yang berangkat jamaah. Sesampainya di masjid, tak menunggu lama iqomah berkumandang. Sayang sekali, niat njagong tidak terkabul, lantaran orang-orang yang berjamaah hanya 9 orang, ditambah imam masjid, Mbah Dul Haq saja. Sementara di shaf wanita, tidak bisa saya hitung, sebab terhalang oleh satir hijau.

Waktu terus berputar, jamaah sholat shubuh sudah usai. Saya kembali ke rumah. Di depan rumah, saya memandangi ibu-ibu yang sibuk berangkat ke sawah. Ada yang sebelum berangkat mampir ke penjaja janganan, ada juga yang langsung berangkat. Kebanyakan mereka pergi untuk ngulur bawang di desa sebelah. Di depan rumah, saya nikmati kopi, rokok dan gorengan yang beli dari penjaja janganan. Lek Kholidah namanya. Di depan rumah, saya pun menikmati pemandangan ikan-ikan di aquarium peninggalan ayah.

Tiba-tiba ada chat whats’app mengabarkan bahwa wanita yang dibuang di dekat Kedai Lokajaya itu selingkuhan pembunuh yang membunuhnya. Wajah saya agak kaget. Wajah kok kaget ya? Coba bisa jelaskan apa maksud wajah kaget? Kalau bisa nanti dapat uang kaget lo. Tapi untuk menyebutkan ekspresi wajah saya yang kaget itu dengan kata apa saya juga bingung. Tolong dibantu ya, prok-prok-prok. Saya terkejut, kok bisa, Pak Pol dengan waktu singkat bisa menemukan pelaku tanpa ada satu pun identitas korban maupun pelaku.

Hebat benar ya Pak Pol bangsamu! Jangan-jangan kehebatan mereka karena ada divisi khusus ghaib dan penerawangan? Kalau itu sih seperti Pak Pol bangsamu tempo dulu, ketika mesin-mesin belum menjadi rakyat, ketika jaringan seluler dan internet belum menjadi penjali silaturrahim yang paling efisien dan simple. Saat orang-orang belum mengenal hoaks, alay, lebay, eta terangkanlah, instarkam, fahri hamzih, sosmed, basuki cahyo kumolo, bela alamak, aksi-aksi baju putih dan lain-lain yang lahir tanpa bapak, tanpa ibu.

Namun, kalau sekarang, saya rasa Pak Pol bangsamu tidak memiliki kecanggihan divisi khusus ghaib dan penerawangan. Paling mentok, mereka sowan kiai khos atau dukun, tanya-tanya ihwal perghaiban dan penerawangan. Paling canggih Pak Pol bangsamu kini ialah membuat divisi terselubung, divisi konspirasi, propaganda, provokasi, hoaks dan kawan-kawannya.

Ada beberapa kemungkinan yang sedang didalami mengenai Pak Pol bangsamu mengenai alasan pelaku tersebut. Pertama, motif lantaran pelaku tersebut tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan korban. Kedua, motif lantaran korban pernah meminjam BPKB—entah lah, makhluk apa ini, siapa yang tahu akan dikasih bapak presiden Inidinesia sepeda motor bodong, sebab banyak anggota pemerintahan dan perlemen yang suka nyuri motor. Eh bukan motor yang suka mereka curi, melainkan uang buat beli motor bodong.

Kembali ke BPKB yang bukan B-PKB lo ya, nanti ketagihan sama imin dan emon. Korban yang meminjam BPKB untuk digadaikan. Alasan penggadaian tersebut lantaran orang tua korban sedang sakit dan membutuhkan pembiayaan. Naasnya, korban tidak pernah nyicil angsuran kreditnya. Akhirnya motor pelaku disita dan pelaku membunuh korbannya karena emosi. Anehnya, ketika saya telusuri, pelaku belum ditangkap dan sumber yang dia kemukakan hanya berasal dari chat ke chat.

Saya heran juga, mengapa bangsa hebat sekelas bangsamu, melahirkan anak-anak chat dan sosmed semacam itu, yang dalam pikirannya, hoaks dianggapnya kebenaran. Misalkan informasi tersebut benar, Pak Pol mendapat informasi secepat kilat itu darimana? Dari divisi ghaib dan penerawangan kah? Bukankah tidak mungkin lagi Pak Pol bangsamu memiliki divisi tersebut?

Maka, sungguh lebih nikmat makan gorengan Lek Kholidah disertai menghisap rokok dan nyeruput kopi di pagi hari. Daripada menyebar informasi yang belum jelas kebenarannya. Mari tuntaskan ngopimu, ngopiku. Tuntaskan ngududmu, ngududku, daripada ora biso turu.

—

Sabtu Legi, 26 Dzulqo’dah 1438/ 19 Agustus 2017

[1]

Surat Luqman ayat 14:

ووصينا الإنسان بوالديه، حملته امه وهنا على وهن وفصله فى عامين ان اشكر لي ولوالديك، إلي المصير.

0 tanggapan:

Posting Komentar