angin malam terhenti sejenak,
menyaksikan sebuah kebahagiaan
luar biasa, kepedihan teramat dalam
mengucur linangan air mata
membasahi sanubari kita
tertahan di nadi jantung
menyuntak, raga melumpuh
18.45 WIB, 30 Desember 2009
dua makhluk menjemput
menghampirinya dengan jutaan
gembira, meski dunia menahan
napasnya
2009, dia akhiri
duka yang mendalam
bagi kami yang lemah
yang marjinal
dia bapak demokrasi
pelindung hak asasi
cinta toleransi
meski penuh kontroversi
kusebut dia kiai
namun ada yang bilang
pelanggar syariat islami
kusebut dia toleransi
namun ada yang bilang
penghianat Ilahi
Kiai Haji Abdurrahman Wahid
dia meninggalkan nama dan jasa
raganya telah pergi
tinggalkan kita
Yogyakarta, Januari 2010
Puisi ini dimuat di Mading Et Tasywiq Madrasah TBS Kudus (2010)

0 tanggapan:
Posting Komentar