![]() |
| Ilustrasi: Abdurrahman Jtk |
Sesampainya di rumah, mata tidak mau
diajak kompromi. Diajak lekas terpejam, istirah tidak mau. Padahal sudah
setengah jam lamanya di rumah. Usaha memutar lagu-lagu sunyi dari Kiai Kanjeng,
semacam ‘Shohibu Baiti’, ‘Duh Gusti’, ‘Sholawat Thibbil Qulub’, yang biasanya
membantu saya tafakur lalu tidur pun tidak manjur kali ini. Sebenarnya dari
tafakur tidak langsung tidur. Ada ruang merenungi kejadian-kejadian, lalu
menuliskan do’a dalam dada dan mata akan lamat-lamat terkatup sendirinya.
Biasanya begitu saja, mata sudah
terkatup dan tidur. Sementara saat ini, waktu sudah menunjukkan 03.30 WIB, mata
tak bergeming dari kemelekannya.
Kiai Kanjeng bagi saya merupakan
musik syu’uban wa qobaila lita’arafu[1].
Sehingga, tatkala waktunya sudah rehat, maka akan compatible untuk
mempertemukan bangsa-bangsa, suku-suku dalam diri saya untuk saling mengenal
dan saling menghargai, maka biasanya sekujur diri, dimulai dari telinga yang
mendengarkan musik inna lillahi wa inna ilaihi raji’un[2],
memotivasi mata agar selekasnya tidur. Kali ini entah mengapa, Allah
menghendaki lain dari biasanya. Ada apakah?
Dengan berat hati, saya mencoba
mencari kemungkinan-kemungkinan lain dari tahapan yang mampu membuat saya
tidur. Saya kembali bertafakur tentang kemerdekaan diri. Kemerdekaan yang belum
mampu menemukan batas kekhalifahan hati dan pikiran. Seringkalinya malah nafsu
yang menjajah diri dengan mengkhalifahi setiap tindak laku.
Semestinya diwajibkan atas kalian
berperang[3],
adalah hati dan pikiran yang berperang atas penjajahan nafsu sendiri. Bukan
memerangi nafsu di luar dirinya. Sebab bisa jadi apa yang engkau senangi itu
tidak baik buatmu, bisa jadi apa yang tidak engkau senangi itu baik buatmu[4].
Tatkala saya sudah mampu merdeka
dari hal tersebut. Maka tahap selanjutnya bukan membebaskan diri dari tanggung
jawab kemanusiaan. Melainkan, menyelaraskan diri dengan regulasi yang Allah
tetapkan. Meski terkadang pahit, terkadang manis. Allah lah mandataris saya
sebagai khalifah bangsa diri saya.
“Duh Gusti, mugi paring ing margi kaleresan…..” suara lagu dari smartphone itu membuat bulu kuduk saya berdiri setengah bulu. Itu lagu Duh Gusti, Kiai Kanjeng. Sementara itu, jam smartphone menunjukkan pukul 04.00 WIB. Sudah setengah jam saya bertafakur dan mendengarkan musik-musik yang biasanya membantu tidur, namun mata tak kunjung tertutup. Ada apa ini Gusti?

0 tanggapan:
Posting Komentar