KEMERDEKAAN SEJATI

Ilustrasi: Abdurrahman Jtk
—

Tiba-tiba ada teriakan dari jalanan seberang kedai. Saya mengenal suara itu, suara tukang parkir Burjo sebelah. Teriakan itu disertai orang berlari berbondong-bondong menuju tempat yang dimaksudkan tukang parkir tersebut. Ada yang berlari, ada yang ngegas kencang alias ngebut. Lo, bedanya apa antara berlari dan ngebut? Kalau berlari, ia tidak sedang mode terbirit-birit, namun kalau orang ngebut sudah termasuk mode berlari. Ada yang jalan santai. Ada juga yang pakai motor, dengan jalan santai dan ada juga yang ngebut.

Hampir semua orang, yang masih terjaga berduyun-duyun menuju tempat yang dimaksud Pak Parkir Burjo. Para pelanggan Kedai Lokajaya pun ikut pergi menuju sana, termasuk saya. Di Kedai Lokajaya hanya menyisakan Mas Bakul dan jajanan yang dijual.

Sesampainya disana, saya menyaksikan wajah-wajah ketakutan dari orang-orang. Mata orang-orang itu menampakkan kecemasan yang tak bisa saya jelaskan. Saya langsung menerobos kerumunan. Kerumunan yang memberikan pesan ‘jika esok, kekasihnya, saudaranya, orang tuanya mengalami demikian bagaimana’. Perlahan saya menepis kerumunan agar saya kuat melihat kejadian apa sebenarnya ini.

Dalam hati bergumam ‘labbaika Allahumma labbaik’. Sementara bibir ini berucap ‘inna liLlahi wa inna ilaihi raji’un’. Dalam pikiran berbisik ‘alhamduliLlah, bukan kekasihku’. Dari tengah kerumunan, samar-samar terlihat bagian belakang jaket hitamnya tertulis Real Madrid.

Saya semakin merangsek ke depan, menepis kerumunan orang-orang yang tak saling kenal. Barangkali yang kita kenali hanyalah kecemasan. Semakin ke depan, rambutnya mulai kelihatan. Rambutnya panjang ikal terurai. Ketika sampai di depan, hati berkecamuk antara cemas jika nanti menimpa kekasih dan syukur bukan kekasih saya. Sebab kekasih saya rambutnya tidak panjang ikal. Sebab pula, kalau rambut kekasih saya berkibar, akan berkobar nasionalis kekasihisme dalam jiwa saya.

Kembali pada lokasi kejadian ya. Wanita berjaket hitam Real Madrid itu belum teridentifikasi siapa dan darimana asalnya. Yang bisa diidentifikasi hanyalah mayat wanita yang mulanya terbungkus trash bag yang terjatuh dari motor matic yang dikendarai seorang pria. Pria tersebut membawa anak kecil di belakangnya. Pria tersebut jatuh di tanjakan yang menikung sebelah kampus swasta timur Kedai Lokajaya. Bungkusan trash bag itu jatuh berputar-putar menuruni jalanan. Perlahan-lahan terbuka dan mayat wanita itu menyembul keluar.

Mulanya, orang-orang yang menyaksikan peristiwa jatuhnya pria pengendara motor matic itu, mengira yang trash bag yang terjatuh berisi sampah. Lantaran tempat itu menjadi langganan pembuang sampah sembarangan oleh orang-orang yang tidak sadar akan bahayanya sampah sembarangan. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa, terfokus membantu jatuhnya pria dan anak kecil tersebut. Sampai pria tersebut pergi, orang-orang baru menyadari bahwa trash bag yang terjatuh adalah mayat wanita. Orang-orang mulanya tidak sadar itu mayat, lantaran pula, di jalan tersebut tidak ada penerangan, alias lampu jalan, yang mestinya menjadi kewajiban pemerintah kabupaten untuk mengadakannya.

Orang-orang kemudian merasa bersalah, lantaran membantu pria yang disangka pembunuh wanita berambut ikal itu. Padahal mereka sebenarnya tidak bersalah sama sekali, lantaran tidak ada kesalahan pada ketidaktahuan.  Meski begitu suara kemerasa bersalahan itu menguap di udara dini hari ini. Sementara saya, malah mengenang wanita yang telah minggat dari kehidupan saya, yang juga mengenakan cincin di jemarinya, sebagaimana mayat wanita tersebut.

Inafish dan kepolisian kemudian datang dan membawa mayat wanita itu. Sementara itu, kabar kabur dari orang-orang yang samar membeberkan kabar, saya bawa pulang. Saya kembali ke Kedai Lokajaya lagi, lupa belum membayar. Usai membayar, saya lihat laptop sudah berhasil menyelesaikan tugas downloadan yang tadi saya tinggal. Lalu saya pulang ke rumah.

Orang-orang yang ketika menerima mushibah, mengucap sesungguhnya dari Allah dan sungguh kepadaNya kembali[1]. Tenanglah tanpa rasa cemas, Mbak. Sebab kehidupan sejati bukanlah disini. Real Madrid menang, engkau pun menang dalam hidup ini. Kematianmu di dunia adalah kekalahan pembunuh yang tidak tahu arti tanggung jawab. Kematianmu adalah suatu kemerdekaan. Sebab kemerdekaan sejati ialah hidup di akhirat.

—
Rabu Pon, 23 Dzulqo’dah 1438/ 16 Agustus 2017
[1]

Surat Al Baqarah ayat 156:

الذين إذا اصابتهم مصيبة، قالو إناّ لله و إنّا إليه رجعون.

0 tanggapan:

Posting Komentar