DARI HUJAN BASAH, HINGGA DINI HARI YANG MENCEKAM

(SERI 4 MENUJU PUNCAK UNGARAN)

—

Hujan mengguyur Basecamp Mawar, terpaksa saya meminjam kunci mobilnya Mas Barok. Sekitar pukul 22.00 WIB, hujan mengguyur, membasahi bumi bagian Mawar. Padahal saya dan Yusril sudah memasukkan badan ke sleeping bag. Lantaran hujan, kami berdua harus berpindah tempat. Sebenarnya ada pilihan di warung, musholla atau basecamp nya, namun kami lebih memilih ke mobil. Di mobil, sembari ngecharge smartphone, saya putar radio yang lama tidak mengusik telinga saya. Saya tidur di jok sopir yang saya mode turon, sementara Yusril tidur di belakang, lantaran jok belakang mode lipat, sehingga luas.

Sekitar Pukul 00.30 WIB, saya terbangun, saya buka jendela mobil, ternyata hujan sudah reda. Saya nyalakan rokok, bal bul bal bul, sembari nyeruput kopi di dashbord pintu kanan. Usai ngopi dan ngudut, sekitar pukul 01.00 WIB, saya bangunkan Yusril untuk pindah tempat ke sebelah tenda. Sesampainya di sebelah tenda, ternyata Ulfa belum tidur. Alhasil, kami bikin kopi, susu dan teh untuk menghangatkan tubuh di suhu Mawar yang semakin dingin. Kami ngopi— ngopi tapi ada yang ngeteh dan nyusu, bertiga.

Usai bikin kopi, berganti bikin indomie, nugget, sosis dan tempe goreng. Agar persiapan hiking ke puncak Ungaran kondisi tubuh sudah kenyang. Apalagi Ulfa belum tidur sama sekali, tidak seperti saya dan Yusril, meski tidur sejenak, setidaknya sudah membuat tubuh fit. Semua makanan sudah matang, kami pun makan, tetap dengan mode makan bergantian.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB, kami segera bergegas, bersiap-siap membawa barang yang perlu kami bawa. Smartphone, senter, air mineral, dan powerbank kami siapkan. Menariknya, di dalam tas Ulfa, beberapa kosmetiknya tidak dikeluarkan. Dia pikir, sampai puncak bisa berdandan lalu berswafoto. Bagaimana nasib kosmetiknya? Lihat saja nanti.

Sebelum berangkat, tak lupa, kami buang hajat dahulu, meminimalisir limbah yang terbuang di alam bebas. Sekitar pukul 03.30 WIB kami berjalan meninggalkan campground, berjalan memasuki jalur pendakian. Hanya kami bertiga yang tampak memulai pendakian di waktu tersebut. Langkah demi langkah kami tapaki, gelap gulita menjadi pemandangan kami. Formasi yang kami pakai PWP, Pria-Wanita-Pria, Saya di depan, Ulfa di tengah dan Yusril di belakang.

Beberapa meter kami lalui, saya merasa ragu, kalau jalur yang kami tapaki adalah jalur pendakian, meski dari awal sudah ada petunjuk bahwa jalur yang kami lalui adalah jalur pendakian. Keraguan saya lantaran jalur yang dulu pernah saya lalui, seingat saya tampak lebar, bisa dilalui oleh dua orang berdampingan. Namun pada dini hari itu, jalurnya hanya bisa dilalui satu orang saja. Ilalang yang tampak tinggi-tinggi membuat keraguan saya tambah.

Terpaksa saya mengajak balik ke petunjuk awal yang mengarahkan ke jalur puncak. Pendakian belum dianggap mulai kok sudah balik. Betapa lucunya saya ini. Sesampainya di penanda jalur, kami duduk di batang pohon yang roboh. Saya searching, apakah jalur pendakian via Basecamp Mawar aman untuk dilewati? Ternyata informasi mbah Google menyatakan aman. Tapi saya masih mempertanyakan kok cuma kami bertiga saja yang memulai pendakian waktu itu.

Perenungan saya lakukan, keputusan maju mundurnya di tangan saya. Apakah kami bertiga jadi mendaki gunung Ungaran atau tidak? Kita lanjut di seri kelima. Tetap ikuti postingan-postingan HBArafat.com dengan mengisi kolom buku tamu. Jangan lupa subscribe channel youtube HB. Arafat dan Hayya Channel, agar kami terus membara dalam berkreasi. See You. 

—


Semarang, 29 Dzulqo'dah 1443

0 tanggapan:

Posting Komentar