(SERI 5 MENUJU PUNCAK UNGARAN)
—
Setelah mendapat banyak informasi dari mbah Google dan saya melangitkan doa dalam dada, akhirnya kemantapan hati untuk mendaki puncak Ungaran terpatri. Kami memulai pendakian dengan bekal sholawat dan salam kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan memohon pendakian ini diliputi penjagaan Allah dari awal hingga akhir. Saya meminta Ulfa dan Yusril untuk senantiasa bersholawat, meski sekadar dalam dada. Sholawat dan doa menggema dalam dada, kaki menapak setiap jejak-jejak menuju Pos 1.
Pemandangan yang masih gelap gulita, mengharuskan kita untuk tetap menatap bawah, melihat langkah. Sebab sebelah kanan sepertinya jurang, lantaran hanya hitam yang tampak di mata kami, selain tempat-tempat yang tersorot cahaya senter kami. Pada setiap jejak langkah kami, terdengar suara hewan-hewan nokturnal dan gemericik air yang mengalir di pralon, sumber air warga. Langkah demi langkah kami tapaki dengan hati-hati.
Di beberapa meter awal kami jumpai tanjakan yang terbilang
ringan. Namun usai tanjakan itu, Ulfa dan Yusril meminta istirahat dahulu.
Maklum, pendaki newbie yang tidak menyiapkan fisiknya dengan berolahraga dan
joging sebelumnya. Kami istirahat sejenak, sembari obrolan tetap mengudara.
Obrolan kami dari awal pendakian sedikitnya memecah keheningan dini hari yang
hanya terdengar hewan nokturnal dan gemericik air dalam pralon.
Tiba-tiba Yusril membuat saya marah. Ketika dia membahas
apakah ada harimau di hutan gunung Ungaran. “Bahas liyane!” tegur saya. Dalam
keyakinan saya, setiap hutan di Jawa pasti ada harimaunya, hanya saja ada yang
menampakkan, ada yang tidak. Ada mata yang mampu melihat, ada yang tidak mampu.
Namun membahas demikian, tampaknya tidak elok untuk dibicarakan. Lantaran ada
dua pemula yang barangkali tidak siap bila harimau benar-benar menampakkan
dirinya. Itu pertimbangan yang membuat saya harus marah.
Kemarahan saya terjadi lantaran sebelum berangkat mendaki, saya
tidak memberi wawasan mengenai hal-hal yang tidak patut untuk dibicarakan
pendaki, kecuali pendaki itu sudah level pro. Saya sendiri tidak terpikir untuk
melarang ini, melarang itu, lantaran kebiasaan saya yang tiap memulai apapun
selalu saja berlandaskan tanpa memikirkan larangan-larangan. Karena setiap
larangan terasa mahal untuk menjadi bekal suatu perjalanan, kecuali kita sudah
mengalami kejadian yang mengharuskan kita melarang suatu hal.
Kembali pada pendakian kita yang sempat terjeda istirahat
pertama di beberapa meter awal. Kami melanjutkan pendakian dengan jalur yang
masih terbilang datar dan standar. Meski begitu, terdengar suara ngos-ngosan
dari dua manusia di belakang saya. Tampaknya mereka berjalan dengan semangat
tinggi, tanpa diimbangi stamina raga yang tinggi. Terhitung sudah tiga kali
kami istirahat untuk sampai Pos 1 dengan sekali tempat untuk meneguk air
mineral. Pemandangan dan nuansa yang sama seperti saat langkah awal kami
menapak.
Bagaimana kisah pendakian kami ke Puncak Ungaran? Tetap ikuti HBArafat.com dan jangan lupa Subscribe channel youtube HB. Arafat dan Hayya Channel, agar kami tetap bersemangat menyajikan perjalanan dan pengalaman kami ke sobat-sobat.

0 tanggapan:
Posting Komentar