PEMERINTAHAN ALA RASULULLAH, INDONESIA MAJU (BAGIAN 1)

—

Banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan oleh pemerintah kita, sebab negeri ini (kembali) dijajah bangsa asing—dengan modus investasi. Padahal semestinya negeri kita sudah merdeka setengah abad lebih, namun kenyataannya, ketergantungan pemerintah kita pada asing menjadikan anak-anak bangsa yang sedang merintis usaha, industri dan teknologinya kalah saing (bisa dikata disingkirkan) oleh investor asing.

Buat apa pemerintah membangun UMKM-UMKM kalau masih merestui investasi dan ijin usaha untuk asing berlangsung. Tentunya UMKM tak akan mampu mengejar langkahnya usaha dan industri besar. Ibarat lomba lari, UMKM seperti sepeda kayuh dan industri besar itu seperti mobil sport dengan cc yang besar. Tentu saja UMKM kalah, rakyat kalah dan investasi dan industri besar lah yang menang.

Lalu siapa yang diuntungkan kalau begitu, rakyat atau asing? Tentu kita bisa tahu jawabannya kan. Rakyat akan menang apabila rakyat tidak diberi sepeda kayuh saja, namun langsung diberi mobil sport dengan cc yang besar. Asalkan rakyat yang diberi itu tahu terimakasih kepada bangsa dan negaranya dengan memberikan prosentase dan pajak yang (kalau bisa) lebih ketimbang asing memberikannya.

Selain investasi, maraknya pajak dan upeti yang bersumber dari hal-hal yang dilarang oleh agama Islam seperti tempat prostitusi (baik yang berkedok maupun yang vulgar), diskotik, tempat karaoke dan miras serta lain-lain. Dan dari sumber-sumber tersebut menjadikan uang negara tidak berkah lagi, serta demikian menjangkiti mental anak-anak bangsa untuk memajukan Indonesia. Percaya atau tidak, sumber yang tidak baik tentunya akan mempengaruhi aliran hingga muaranya.

—

Kudus, 2010

Tulisan ini pernah dimuat di Mading Et Tasywiq Madrasah NU TBS Kudus (2010)

0 tanggapan:

Posting Komentar