Banyak pekerjaan rumah yang mesti
diselesaikan oleh pemerintah kita, sebab negeri ini (kembali) dijajah bangsa
asing—dengan modus investasi. Padahal semestinya negeri kita sudah merdeka
setengah abad lebih, namun kenyataannya, ketergantungan pemerintah kita pada
asing menjadikan anak-anak bangsa yang sedang merintis usaha, industri dan
teknologinya kalah saing (bisa dikata disingkirkan) oleh investor asing.
Buat apa pemerintah membangun
UMKM-UMKM kalau masih merestui investasi dan ijin usaha untuk asing
berlangsung. Tentunya UMKM tak akan mampu mengejar langkahnya usaha dan
industri besar. Ibarat lomba lari, UMKM seperti sepeda kayuh dan industri besar
itu seperti mobil sport dengan cc yang besar. Tentu saja UMKM kalah, rakyat
kalah dan investasi dan industri besar lah yang menang.
Lalu siapa yang diuntungkan kalau
begitu, rakyat atau asing? Tentu kita bisa tahu jawabannya kan. Rakyat akan
menang apabila rakyat tidak diberi sepeda kayuh saja, namun langsung diberi
mobil sport dengan cc yang besar. Asalkan rakyat yang diberi itu tahu
terimakasih kepada bangsa dan negaranya dengan memberikan prosentase dan pajak
yang (kalau bisa) lebih ketimbang asing memberikannya.
Selain investasi, maraknya pajak dan upeti yang bersumber dari hal-hal yang dilarang oleh agama Islam seperti tempat prostitusi (baik yang berkedok maupun yang vulgar), diskotik, tempat karaoke dan miras serta lain-lain. Dan dari sumber-sumber tersebut menjadikan uang negara tidak berkah lagi, serta demikian menjangkiti mental anak-anak bangsa untuk memajukan Indonesia. Percaya atau tidak, sumber yang tidak baik tentunya akan mempengaruhi aliran hingga muaranya.
.jpg)
0 tanggapan:
Posting Komentar