![]() |
| Ilustrasi: Abdurrahman Jtk |
Rizki itu sesuatu yang kita terima,
baik berupa apapun asalkan masih berupa materi, yang tampak dan atau bisa
dirasakan, yang bisa kita berikan kepada makhluk lainnya. Sehingga tidak
sekadar uang atau harta benda saja, namun pengetahuan, pengalaman, kekuatan,
usaha, serta masih banyak lainnya yang terkadang tidak terpikir oleh kita.
Kalau kita menerjemahkan kata pemberian akan ketemu rizki, huda, shodaqoh,
serta banyak kata lain yang memiliki arti pemberian. Sebagaimana pagi ini,
bakwan, rokok dan kopi yang saya konsumsi merupakan rizki yang diberikan Allah
lewat ibu.
Saya sangat bersyukur, bisa duduk
diberi rizki pergi ke Yogyakarta, menumpangi Bus Haryanto di kursi nomer 19.
Ngomong-ngomong, Bus Haryanto merupakan satu-satunya PO autobus yang menempeli
setiap busnya dengan stiker sholawat. Keren enggak lur? Kalau keren,
sholawatlah tapi jangan ingat Haryantonya, lantaran Haryanto hanya wasilah
untuk kita sholawat. Tentu bus-bus tersebut pasti akan masuk surga gondelan
busnya Kanjeng Nabi Muhammad.
Dalam perjalanan, saya menikmati
orang-orang yang bergegas pergi kerja dengan rasa yang memburu. Atau hal itu
memang mereka begitu rajin dan giat dalam bekerja. Entahlah. Saya pandangi
secara seksama seluruh penumpang yang hanya 19 orang saja.
Tiba-tiba saya melihatmu duduk di
seberang kursi yang kududuki. Anehnya, engkau memakai kacamata, lain dari
biasanya. Meskipun style baju yang engkau kenakan sebagaimana biasanya
saat-saat bersamaku, warna kesukaanku, baju merah yang dipadu jilbab merah
maroon. Maroon loh gaesss, bukan marina yang pantai, bukan pula merana yang
derita. Atau jangan-jangan maroon itu diksi keren dari merona? Merah merona.
Meski seperti biasanya, saya terpesona sekali melihatmu di kursi seberang sana.
Anehnya lagi, engkau tetap diam
saja, tanpa sepatah kata yang terucap dari bibirmu yang mempesona itu. Engkau
diam saja, meski bathinku, engkau tahu aku sedang melihatmu. Engkau diam saja,
hanya memandangi gadjet oppo, yang sama persis dengan gadjet kepunyaanku. Oppo
tah oppo? Tidak seperti biasanya yang cerewet, bawel, ketawa ketiwi dan humble.
Terkadang wajah manis galakmu menyelidik pria-pria yang jelalatan sepertiku.
Melihatmu yang berada di sebelah
kiri bus ini secara terus menerus, lambat laun membuatku tertidur. Saya
benar-benar tertidur, sementara lagu dangdut ‘Kandas’ masih bernyanyi di
sisi-sisi bus yang terpasangi speaker.
Setengah jam berlalu, suara dangdut
berubah menjadi suara Doraemon yang keluar dari ‘pintu kemana-mana’nya, disusul
suara Shizuka dan Nobita. Saya terbangun dari tidur. Masak terbangun dari
kematian? Edan po, wong mati urip maneh, iso-iso medeni bocah[1].
Ternyata saya tidak lagi di kursi
depan rumah, ketika melihat anak-anak berangkat ke madrasah. Saya pun tidak di
Bus Haryanto yang dari Kudus itu. Ternyata saya di ruang tengah, depan televisi
yang sedang menayangkan Doraemon di ahad pagi ini. Jam smartphone—lo
tadi katanya gadjet, sekarang kok smartphone, mbok konsisten. Lah
bedanya smartphone dan gadjet itu apa? Mari kita tanya handphone
saja— menunjukkan pukul 09.00 WIB.
Alhamdulillah, meski hanya mimpi,
engkau telah menjadi rizki yang patut disyukuri. Ohya, sampai lupa, kalau saya
mesti ke Pasar Welahan, mengantar Ibu bahan baku krupuk yang diproduksinya.
Untuk pemesanannya, bisa kalian hubungi 0821-3810-0186. Promosi nih, promosi.
Lah kan dari tadi saya malah promosi banyak merek dagang dan usaha orang lain
malahan.
Kemudian, dalam perencanaan saya, saat ibu belanja, saya berkeliling sendiri mencari Koran Ahad, bukan Koran Minggu lo. Siapa tahu nama saya tercantum di salah satu rubriknya. Kalau tercantum kan lumayan, bisa nyetok kepul asap yang membuat segala hal meresap dalam kepala dan dada. Wa-rzuqny fahma waasiiaa. Puji syukur milik (dan kepada) Allah, pengasuh alam semesta[2]..
Artinya: Gila lo, orang mati bisa hidup lagi, bisa-bisa menakuti anak-anak
Surat Al Fatihah ayat 2:
الحمد لله رب العلمين.

0 tanggapan:
Posting Komentar