TIRAKAT TAREKAT WAKTU

Ilustrasi: Abdurrahman Jtk

—

Kang Dul pergi meninggalkan Kedai Lokajaya, meninggalkan uang pembayaran kepada Mas Bakul atas makanan dan minuman yang sudah dimasukkannya ke samudera perutnya. Selain itu, ia pergi meninggalkan tumpukan hikmah yang banyaknya serupa tumpukan nasi kucing disini. Hikmah yang ditinggalkannya serupa ampas kopi yang wedhang kopinya sudah habis, sementara ampasnya mengendap banyak di gelas ingatan dan kenangan kami.

Hikmah itu inti dari pengetahuan. Jika kami terlampau banyak meneguk kopi pengetahuan, sementara ampas kopinya tak ikut kami resap-sesapi, maka kami tergolong manusia-manusia yang merugi[1]. Demi waktu[2].

Kang Dul meninggalkan kami bertujuh. Saya, Lek Teguh, Mas Bakul, dua pelanggan yang sedang pacaran sembari mengerjakan skripsinya di pojok dekat toilet, satu orang di sebelah Lek Teguh dan satunya di dalam dekat kamar tidurnya Mas Bakul. Sementara saya, masih memiliki waktu dua jam empat puluh satu menit lagi. Lantaran Kedai Lokajaya tutup pada pukul 03.00 WIB, guna menyelesaikan downloadan film ‘Kau adalah Aku yang lain’, ‘Rabne Bana di Jodi’ serta ‘Rayya, Cahaya di Atas Cahaya’. Film-film tersebut merupakan film yang direkomendasikan oleh Kang Dul.

Kang Dul bagi saya merupakan sahabat yang memiliki kharisma tersendiri, meski terkadang bikin kepala saya diterbangi burung-burung ingatan. Namun, seringnya ia memberi kunci untuk saya pegang dan pintunya ia kasih tahu dengan gejala-gejala peristiwa semesta.

Dia keturunan darah hijau pesantren dan nahdliyin. Akan tetapi sikapnya tidak menunjukkan kepesantrenan dan kenahdliyinan, melainkan silmi, rahmatan lil ‘alamin dan Islam yang ia tampakkan. Baik dalam pergaulan sesama muslim maupun kepada yang non muslim. Terkadang galak dan garang juga, namun tidak membuat gaduh dan takut sekelilingnya. Sebab usainya galak dan garang, ia bisa membuat tawa sekitarnya. Maka kami merasa aman dan nyaman.

Sepengetahuan saya, ia pernah tirakat sholawatan jibril sebanyak empat puluh empat ribu empat ratus empat puluh empat dalam sehari. Pernah juga sholawatan nariyah sehari sebanyak empat ratus empat puluh empat. Pernah juga istighfar sebanyak empat ratus empat puluh empat dalam sehari. Pernah juga melakukan puasa daud[3], puasa ngebleng[4] tiga hari dan juga melakukan ngerowot[5].

Kang Dul juga pernah tidak tidur selama tiga hari tiga malam. Namun pernah juga tidur tiga hari tiga malam tanpa bangun. Pernah tidak keluar rumah selama empat bulan lamanya. Sering jalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh. Sering juga ia mengunjungi makam-makam wali/ulama’/kiai di waktu malam. Sering pula traveling ke gunung-gunung tanpa membawa tenda dan peralatan hiking. Pernah touring motor keliling pulau Jawa. Pernah juga, ia ngonthel sejauh 250 km.

Begitulah setahu saya mengenai Kang Dul. Entah kharisma yang dimilikinya lantaran tirakat-tirakat yang ia tempuh atau warisan dari leluhurnya. Hanya Allah dan Kang Dul yang tahu. Atau jangan-jangan ia sudah move on dan tidak lagi terikat pada tarekat keluarga dan lingkungannya. Hanya Allah dan Kang Dul yang tahu. Kita sebagai di luar dirinya, hanya bisa mengambil manfaat-manfaat yang ia tinggalkan.

Bisa jadi, Kang Dul sejak lahir sudah digariskan semacam itu. Lantaran saya pernah mendengar darinya bahwa yang ia lakukan tanpa tendensi dan pamrih tentang matrealistik yang akan ia dapatkan. Sementara kita, kalau melakukan apa-apa berharapnya sesuatu yang mbatheni kita saja. Daripada menghabiskan waktu dan tambah membingungkan maksud serta karepnya, mari kita tanyakan pada gorengan yang melambaikan kegurihannya untuk kita santap.

—
Selasa Pahing, 22 Dzulqo’dah 1438/ 15 Agustus 2017
[1]
Surat Al ‘Ashr ayat 2: إنّ الإنسان لفي خسر
[2]
Surat Al ‘Ashr ayat 1: والعصر

[3]
Puasa Daud itu sehari puasa, sehari tidak puasa.

[4]
Puasa Ngebleng itu puasa yang tidak melakukan buka puasa sampai batas hari yang ditentukan. Ada yang puasa Ngebleng 3 hari, ada yang puasa Ngebleng 7 hari, 40 hari dan hitungan-hitungan lain.

[5]
Ngerowot itu pola hidup yang tidak mengkonsumsi makanan/minuman yang mengandung beras.

0 tanggapan:

Posting Komentar