![]() |
| Ilustrasi: Abdurrahman Jtk |
Sebenarnya kebencian itu tidak ada,
yang ada itu cinta yang belum diberikan ruang saja. Maka berikanlah ruang-ruang
seluas mungkin, sebanyak mungkin pada setiap manusia. Sebab yang fitrah dari
manusia itu rasa cinta dan kasih sayang.
Hari ini, bisa jadi engkau benci
padaku. Namun aku menampung kebencian itu untuk energi membongkar dinding
antara rumah keraguan dengan rumah kepercayaan. Diantara kita, diantara
orang-orang (untuk sementara) yang dijajah pikiran dan hatinya. Pikiran dan
hati itu singgasana cinta dan kasih sayang. Maka setiap detik aku selalu
belajar berpikir. Belajar merasa agar tidak memantulkan kebencianmu padaku,
kembali kepadamu.
Hari ini, bisa jadi engkau
sangat-sangat membenciku. Tapi aku masih mengingat bahwa tiap sholat, aku
selalu berucap ‘Ya Muqollibal Qulub, Tsabbit Qolbi ‘ala Dinik’. Tuhan bisa saja
melakukan apapun semau-maunya, hanya saja manusia diberikan Dia pilihan dan
kesempatan.
Pilihan itu berupa mencinta dan
membenci. Keduanya memuara pada kasih sayang dan perhatian. Sementara
kesempatannya, berupa peluang-peluang kita untuk berjuang menyelaraskan dengan
takdirNya. Bahwa pilihan untuk tetap mencintaimu meski engkau membenciku juga
merupakan kesempatan bagiku untuk membuat Tuhan percaya dan terharu padaku.
Mengapa harus mengusahakan rasa
percaya dan haru padaNya untuk hal-hal yang tidak masuk dalam kategori, label,
konten, bab ini dalam buku-buku (yang katanya) religi? Sebab kebencianmu akan
menjadi senjataku untuk membunuh kebencianmu. Adalah sebuah kesempatan yang Dia
berikan supaya nanti Dia mengubahmu memiliki pilihan mencintaiku.
Mencintai itu wilayah yang luas.
Tidak semacam engkau menyukai nasi kucing sambel teri dan aku menyukai nasi kucing
gongso ayam. Mencintai itu menerimamu tanpa ada satu pun kepentingan melainkan
lima huruf, C, I, N, T dan A saja.
Sebagaimana benci pun sama. Hanya
saja, kita terlalu sering menelan pil cemburu. Ditusuk cairan hasud dan
terinfus iri. Lalu, kita menjadi hibrida baru. Manusia jenis baru yang tidak
mampu melakukan observasi secara tepat dan mendekati haqqul yaqin diri
sendiri. Sehingga sedikit-sedikit, tasukete, tasukete, tasukete
kepada selain Dia.
Maka, daripada aku mengganggu akal pikiranmu untuk mencari kalimat pokokku, sebaiknya aku pulang dulu. Toh, aku sudah dinikmatkan oleh kebhinnekaan angkringan ini. Nikmat mana lagi yang engkau dustakan? [1]Kang. Kita berjalan di atas jalan cinta. Di ujung jalan, kita akan bertemu kembali[2].

0 tanggapan:
Posting Komentar