PUTRA-PUTRI KH. CHOLIEL IDRIES (3/3)

 

—

Putra-Putri KH. Choliel Idries:

16. Idris Muqthi

Idris Muqthi merupakan putra keenambelas KH. Choliel Idries dan putra terakhir Nyai Badriyah yang meninggal dunia saat proses persalinannya. Tidak hanya putranya saja yang meninggal, Nyai Badriyah juga meninggal dunia di waktu tersebut.

17. Abdullah Waidl

Abdullah Waidl merupakan putra pertama dari pernikahan KH. Choliel Idries dan Nyai Siti Fathimah. Beliau meninggal saat proses persalinannya.

18. Waidloh

Nasib Waidloh juga sama seperti kakaknya, Abdullah Waidl, meninggal dunia saat proses persalinannya.

19. KH. Abdul Haq (Jetak, Wedung, Demak)

KH. Abdul Haq merupakan penerus kemursyidan kakaknya, KH. Basyir Muhsin. Beliau merupakan generasi ke 3, mursyid Tarekat Naqsabandy Kholidy Cholily. Beliau meneruskan peninggalan KH. Choliel Idries dalam berjuang menegakkan kalimatul haq di desa Jetak, Wedung, Demak.

Usai mondok di Tegalrejo, Magelang, KH. Abdul Haq menikah dengan wanita asal Bangsri, Jepara bernama Nyai Zaenab dan bertempat tinggal disana. Usai memiliki dua putra, KH. Basyir Muhsin meninggal dunia. Dalam rangka memenuhi wasiat kakaknya dan meneruskan perjuangan ayahnya, KH. Abdul Haq kembali ke desa Jetak, Wedung, Demak. Tak selang lama, karena suatu hal, pernikahannya dengan Nyai Zaenab harus berakhir.

Usai bercerai dengan Nyai Zaenab, KH. Abdul Haq mempersunting gadis asal Kenduren, Wedung, Demak bernama Nyai Masruroh. Nyai Masruroh diboyong ke Jetak, Wedung, Demak menemani perjuangannya. Dari pernikahan dengan Nyai Masruroh, KH. Abdul Haq dikaruniai 6 putra-putri.

Beberapa tahun yang lalu, KH. Abdul Haq juga menikah lagi dengan janda asal Krasak, Kalinyamatan, Jepara bernama Nyai Sehah. Dari pernikahan dengan Nyai Sehah, Beliau baru dikaruniai satu orang putra. Total keturunan yang dimiliki KH. Abdul Haq untuk sementara ini baru 9 putra-putri dari 3 istri.

20. Kiai Awwabin (Pecangaan, Jepara)

Putra keduapuluh KH. Choliel Idries ini ketika memasuki usia dewasa, menikah dengan.gadis asal Pecangaan, Jepara bernama Nyai Nur Khotijah. Usai menikah, Kiai Awwabin bertempat tinggal di Pecangaan. Beliau membantu perjuangan keponakannya KH. Mahfudh Asmawi (suami Nyai Afiyah binti Hilaluddin bin Choliel) di Pondok Pesantren Walisongo.

Kiai Awwabin harus menghadap keharibaan Allah dalam usia muda. Beliau meninggalkan 3 putra-putri dari pernikahannya dengan Nyai Nur Khotijah.

21. KH. Ali Hafidh (Jetak, Wedung, Demak)

KH. Ali Hafidh merupakan ketua ta'mir Masjid Baitul Muttaqin, Jetak, Wedung, Demak. Selain sebagai ketua ta'mir masjid, Beliau dulunya merupakan kepala MI 02 Darussalam, Jetak, Wedung, Demak. Beliau memiliki istri bernama Nyai Uswatun Hasanah dan 3 putra-putri.

KH. Ali Hafidh adalah sosok Kiai Millenial yang mau menerima kenyataan perubahan zaman yang begitu cepat. Pada pertengahan tahun 2021, Allah menghembuskan napas terakhirnya. Beliau dimakamkan bersebelahan dengan ibunya, Nyai Siti Fathimah, sebelah barat daya dari makam ayah dan kakak-kakaknya.

22. KH. Muayyad (Lamongan, Jawa Timur)

Ketika masih muda, KH. Muayyad membatu kakak-kakaknya di PP. Al Cholieliyyah, Jetak, Wedung, Demak. Namun Belaiu harus berpindah tempat tinggal saat berjumpa tambatan hatinya Nyai Husniyah. Beliau tinggal di sebuah desa di Kabupaten Lamongan, tempat tinggal Nyai Husniyah. Dari pernikahannya dengan Nyai Husniyah, KH. Muayyad dikarunia 3 buah hati dan Nyai Husniyah harus berpulang kehariaan Allah terlebih dahulu.

Usai meninggalnya Nyai Husniyah, KH. Muayyad menikah dengan gadis asal Jepara bernama Nyai Masfufah. Nyai Masfufah diboyong ke Lamongan untuk menemani perjuangan syiar agama Islam disana. Dari pernikahannya dengan Nyai Masfufah, untuk sementara, KH. Muayyad dikaruniai 2 putra-putri.

23. Kiai Abdullah Ta'ib (Jetak, Wedung, Demak)

Anak terakhir KH. Choliel Idries ini merupakan ketua ranting NU desa Jetak Wedung Demak. Selain sebagai ketua ranting, Beliau merupakan kepala madrasah MI 01 Darussalam, Jetak Wedung Demak. Beliau juga dahulu pernah dicalonkan diri sebagai calon kepala desa dari Partai Ketela.

Sebagai seorang tokoh yang sibuk dengan banyaknya kegiatan ada wanita yang setia menemani Beliau yang bernama Nyai Badriyah. Dari Nyai Badriyah, Beliau dikaruniai putra-putri sebanyak 4 orang. Diantara kesibukannya sebagai ketua ranting, kepala madrasah, Beliau juga diamanahi sebagai imam musholla dan mendidik anak-anak di rumahnya. Tentunya masih banyak kesibukan lainnya yang diamanahkan kepada Beliau.

Penutup:

Dari 23 putra-putrinya, lahir banyak generasi yang tentunya berjuang menyiarkan agama Islam dengan jalur dan metodenya masing-masing. Ada yang masih setia sebagai seorang Kiai dan Guru. Ada yang menjadi PNS, politisi hingga aktifis LSM. Ada yang menjadi pengusaha, pedagang, nelayan hingga pialang. Ada yang menjadi penulis, seniman, budayawan hingga promotor. Dan masih banyak lagi yang tidak mampu saya sebutkan secara rincinya.

Dari banyaknya anak turun itu, tentu KH. Choliel Idries akan bangga lantaran amal dan warisan genetiknya menjadi jariyah tersendiri. Selain itu, sebagai seorang kekasih Allah, tentu yang paling membanggakannya tidak hanya amal dan ilmunya semata, melainkan anak turunnya. Sebagaimana Kanjeng Nabi Muhammad dahulu pernah bersabda bahwa Beliau meninggalkan dua hal, yakni Al Qur'an, yang tentunya ilmu dan amal semua isinya, serta anak turunnya, sebagai penjaga ilmu dan amal tersebut. Sebab kedua hal itu saling beriringan dan melengkapi.

Saya sendiri meyakini bahwa putra-putri KH. Choliel Idries merupakan manusia-manusia sholeh yang tidak akan memutuskan mata rantai jariyah Beliau. Semoga cucu-buyut dan turunan setelahnya tidak jauh-jauh dari keshalehan para leluhurnya. Semoga mata rantai kita semua selalu tersambung kepada KH. Choliel Idries yang tersambung kepada baginda Muhammad SAW.

0 tanggapan:

Posting Komentar